Akhir-akhir ini aku punya metode baru sortir buku yang aku ingin beli.
Font.
Sudah beberapa minggu ini, atau mungkin beberapa bulan, aku tidak membaca buku yang lebih tebal daripada komik. Semua pembatas bukuku masih berhenti di halaman yang sama.
Maka aku mulai membatasi buku-buku yang akan kubeli. Salah satunya adalah dari font. Font dan spasi. Alasannya tentu saja, kenyamanan mata. Sudah cukup sering aku tak tahan meneruskan membaca buku karena font tulisannya tidak memanjakan mataku. Atau spasi antarbaris nya yang terlalu dekat, seakan tidak menyisakan apapun untuk berimajinasi selain tulisan.
Hummm... bahkan dengan itu pun aku masih tetap sulit menyentuh buku-bukuku lagi :(
~@majnun, June 29, 2009~
Sunday, June 28, 2009
Thursday, April 16, 2009
eLectioN
Mendarat di bandara Adisucipto sekitar jam 8.30 malam, terlambat setengah jam dari jadwal. Well, biasalah... lalu pesan taksi.
.
"Pemilu mau nyontreng apa Mbak?" sang supir taksi bertanya.
"Hoo... ada lah Pak... "
"Wah, kalau jaman sekarang sudah ga ada Mbak yang namanya luber. Makanya saya berani tanya Mbak. Kalau saya sih pilih SBY (maap sebut merek, biar gampang - red)."
"Wah... berarti pilih Demokrat dong Pak."
"Ya... Demokrat atau apa, pokoknya yang ada Pak SBY nya."
Hmm... andaikan dia fans Mega, berarti dia pilih PDIP. Andaikan dia fans JK, berarti Golkar lah yang dia contreng ketika pemilu hari berikutnya. Kalau mendadak Mega dan SBY tukeran partai, ya pendukung partainya ikut tukeran.
Partai dipilih berdasarkan kharisma tokohnya. Bukannya sikap politik, bukannya pandangan politik, dan bukannya tindakan politik partai itu sendiri. Lalu batasan antara tokoh politik dan partai politik menjadi bias.
Toh, semua partai mengajukan program abstrak yang sama. Tidak ada bedanya. Tidak menarik. Apa yang bisa dipilih dari 100 apel dengan warna sama?
Paling-paling baunya.
Kalau belum tercium bau busuk, ya berarti si apel masih bisa dimakan.
~layla, 160409~
.
"Pemilu mau nyontreng apa Mbak?" sang supir taksi bertanya.
"Hoo... ada lah Pak... "
"Wah, kalau jaman sekarang sudah ga ada Mbak yang namanya luber. Makanya saya berani tanya Mbak. Kalau saya sih pilih SBY (maap sebut merek, biar gampang - red)."
"Wah... berarti pilih Demokrat dong Pak."
"Ya... Demokrat atau apa, pokoknya yang ada Pak SBY nya."
Hmm... andaikan dia fans Mega, berarti dia pilih PDIP. Andaikan dia fans JK, berarti Golkar lah yang dia contreng ketika pemilu hari berikutnya. Kalau mendadak Mega dan SBY tukeran partai, ya pendukung partainya ikut tukeran.
Partai dipilih berdasarkan kharisma tokohnya. Bukannya sikap politik, bukannya pandangan politik, dan bukannya tindakan politik partai itu sendiri. Lalu batasan antara tokoh politik dan partai politik menjadi bias.
Toh, semua partai mengajukan program abstrak yang sama. Tidak ada bedanya. Tidak menarik. Apa yang bisa dipilih dari 100 apel dengan warna sama?
Paling-paling baunya.
Kalau belum tercium bau busuk, ya berarti si apel masih bisa dimakan.
~layla, 160409~
Saturday, January 03, 2009
MeMory
Terkadang, saat mendengarkan lagu tertentu, secara otomatis perasaanku kembali ke saat dimana aku sering mendengarkannya.
Misalnya saja lagu yang kudengarkan sekarang, lagunya My Chemical Romance... judulnya... Disenchanted. Yang kuingat dari lagu ini adalah mejaku yang masih ada di tempat yang lama, dan aku sedang asyik mengerjakan proposal suatu proyek sampai jam 8 atau 9 malam, dan aku tahu ada seseorang yang melakukan hal yang kurang lebih sama di mejanya di lantai yang berbeda.
Sebagaimana bau hujan yang menyentuh tanah selalu membuat perasaanku ringan. Atau bau pengharum ruangan yang membuatku ingin kembali ke beberapa bulan lalu dan melakukan segalanya dengan berbeda. Lagu seperti aroma. Inderaku mengenalinya untuk satu kenangan tertentu.
Kalau kamu tanya, lagu-lagu apa yang kudengarkan selama aku mengerjakan TA, sudah pasti aku lupa. Tapi saat aku mendengarkan lagunya, maka aku bisa bilang lagu itu membuatku teringat saat aku mengerjakan TA.
@warnet-depan-kosan, 030109
Misalnya saja lagu yang kudengarkan sekarang, lagunya My Chemical Romance... judulnya... Disenchanted. Yang kuingat dari lagu ini adalah mejaku yang masih ada di tempat yang lama, dan aku sedang asyik mengerjakan proposal suatu proyek sampai jam 8 atau 9 malam, dan aku tahu ada seseorang yang melakukan hal yang kurang lebih sama di mejanya di lantai yang berbeda.
Sebagaimana bau hujan yang menyentuh tanah selalu membuat perasaanku ringan. Atau bau pengharum ruangan yang membuatku ingin kembali ke beberapa bulan lalu dan melakukan segalanya dengan berbeda. Lagu seperti aroma. Inderaku mengenalinya untuk satu kenangan tertentu.
Kalau kamu tanya, lagu-lagu apa yang kudengarkan selama aku mengerjakan TA, sudah pasti aku lupa. Tapi saat aku mendengarkan lagunya, maka aku bisa bilang lagu itu membuatku teringat saat aku mengerjakan TA.
@warnet-depan-kosan, 030109
Friday, November 28, 2008
shaRing pictuRes
Some month ago I decided to (again) enjoy my life. Well, I'd been working for almost 2 years that time, and I hadn't spend my money quite much for myself (I think). And so, I thought it was time to try something new.Snorkeling, around Kepulauan Seribu (or Thousand Islands in english). Yippie!
I didn't have a camera (until now actually), so I could only use my handphone to take some pictures. Sorry if they're kind of blur or something :D
Of course you
can't take some pictures while you are snorkeling, hahahaha... First picture is "bulu babi" (dunno how to translate), at "keramba" (a place for ... fishing? ouch, my english is very bad...) near Pulau Pramuka (or Scout Island if you want to translate :D). Second one is also "bulu babi". No, there's no story this time. Just wanna share some pictures :)
@Grey, Nov 29, 2008
Friday, October 24, 2008
beautY
Betapa relatifnya arti kecantikan.
Sekarang, yang dinamakan cantik mungkin adalah tubuh langsing, tinggi, bak foto model.
Dulu, yang dianggap cantik mungkin adalah tubuh yang gemuk, menandakan kesuburan.
Waktu main ke Malaka beberapa waktu lalu, aku diantar melihat sisa-sisa standar kecantikan di Cina sampai awal abad 20. Sayang aku tak punya fotonya.
http://en.wikipedia.org/wiki/Footbinding
http://www.sfmuseum.org/chin/foot.html
Bukan kaki orangnya, melainkan sepatunya. Bahkan mereka tidak mau melihat bagaimana kaki-kaki itu rusak. Mereka tidak ingin melihat kaki para perempuan ini tanpa sepatu. Sepatu yang kecil mungil itulah yang menjadi standar kecantikan.
Kecantikan itu relatif. Relatif terhadap waktu. Relatif terhadap lokasi. Relatif terhadap standar masyarakat. Jadi tak perlu lah menyiksa diri demi kecantikan. Just be yourself!
@Grey, 281008
Sekarang, yang dinamakan cantik mungkin adalah tubuh langsing, tinggi, bak foto model.
Dulu, yang dianggap cantik mungkin adalah tubuh yang gemuk, menandakan kesuburan.
Waktu main ke Malaka beberapa waktu lalu, aku diantar melihat sisa-sisa standar kecantikan di Cina sampai awal abad 20. Sayang aku tak punya fotonya.
http://en.wikipedia.org/wiki/Footbinding
http://www.sfmuseum.org/chin/foot.html
Bukan kaki orangnya, melainkan sepatunya. Bahkan mereka tidak mau melihat bagaimana kaki-kaki itu rusak. Mereka tidak ingin melihat kaki para perempuan ini tanpa sepatu. Sepatu yang kecil mungil itulah yang menjadi standar kecantikan.
Kecantikan itu relatif. Relatif terhadap waktu. Relatif terhadap lokasi. Relatif terhadap standar masyarakat. Jadi tak perlu lah menyiksa diri demi kecantikan. Just be yourself!
@Grey, 281008
Friday, July 11, 2008
a CaN
Akhir minggu lalu, pergi ke Bandung dengan cara yang sungguh tragis. Berdiri selama 3 jam di perbatasan antar-gerbong KA.
Selama satu jam pertama di siang menjelang sore itu, kaki masih kuat, badan masih cukup segar, walaupun perut kosong sejak pagi.
Satu jam berikutnya, mata mulai berkunang-kunang, kepala mulai pening. Posisiku yang berada di perbatasan antar-gerbong, atau dengan kata lain ada di depan toilet, membuatku enggan memesan makanan. Namun, tubuh yang mulai kelelahan mulai menuntut saat nasi goreng (beserta pembawanya tentu saja) berjalan dari gerbong ke gerbong di depan mata. Akhirnya aku menyerah dan membeli sekaleng pocari sweat (numpang iklan-red) untuk setidaknya mendapatkan sedikit tenaga.
Tak butuh waktu lama untuk menghabiskan isinya tentu saja. Dan, sambil celingukan menunggu petugas lewat, kaleng kosong itu pun kutimang-timang saja.
Seorang lelaki bernasib sama denganku menatapku dan bertanya, "Mau dibuang ya Mbak?" Aku mengangguk. Dia mengulurkan tangan. Kupikir sekilas, ah, baik sekali orang ini, membantuku membawakan sampah.
Sedetik kemudian, kaleng kosong itu pun lenyap, dibuang keluar melalui celah antar-gerbong.
-Avalanche, 110708-
Selama satu jam pertama di siang menjelang sore itu, kaki masih kuat, badan masih cukup segar, walaupun perut kosong sejak pagi.
Satu jam berikutnya, mata mulai berkunang-kunang, kepala mulai pening. Posisiku yang berada di perbatasan antar-gerbong, atau dengan kata lain ada di depan toilet, membuatku enggan memesan makanan. Namun, tubuh yang mulai kelelahan mulai menuntut saat nasi goreng (beserta pembawanya tentu saja) berjalan dari gerbong ke gerbong di depan mata. Akhirnya aku menyerah dan membeli sekaleng pocari sweat (numpang iklan-red) untuk setidaknya mendapatkan sedikit tenaga.
Tak butuh waktu lama untuk menghabiskan isinya tentu saja. Dan, sambil celingukan menunggu petugas lewat, kaleng kosong itu pun kutimang-timang saja.
Seorang lelaki bernasib sama denganku menatapku dan bertanya, "Mau dibuang ya Mbak?" Aku mengangguk. Dia mengulurkan tangan. Kupikir sekilas, ah, baik sekali orang ini, membantuku membawakan sampah.
Sedetik kemudian, kaleng kosong itu pun lenyap, dibuang keluar melalui celah antar-gerbong.
-Avalanche, 110708-
Monday, May 12, 2008
beinG Down
I hate being down.
Almost four months, and I'm still down. What a bad day i had back then.
*Somebody, save me!
~Seoul, May 12, 2008~
Almost four months, and I'm still down. What a bad day i had back then.
*Somebody, save me!
~Seoul, May 12, 2008~
Subscribe to:
Posts (Atom)