Sunday, September 23, 2012

StuPidiTy CosTs.... Part 1

I went for a long-awaited trip, that was 3-days Kansai trip. First day, Osaka. Second day, Kyoto. Third day, Nara. The itinerary was quite simple as I went alone, so I just planned it roughly. Lost is part of the fun, they said. 

I arrived at Yokohama on September 9. Being told that the next weekend would be a long-weekend (Happy Monday system by Japanese law), I thought, hey, maybe I can go to Kansai. So that day I browsed all day about going to Kansai.

My only problem was I wasn't prepared for this trip. I brought with me a huge luggage and a standard backpack. I didn't (and still don't, haha) have a credit card, which I found later it could be very useful to reserve this and that.

I asked my friend if it was possible to store my huge luggage somewhere instead of bringing it along. She suggested coin locker. Well, I saw some coin lockers at some stations, but they were usually small and medium size. After I googled it, I was still in doubt that my luggage could fit in the big size one, not to mention that only few could be found in large substations. If I was lucky enough to find it, there's very big chance that it's already occupied and I would have to bring it everywhere. So I googled more. I found an alternative, check it here. The other alternative was just to keep it at the hotel if possible.

September 10, I googled for night-bus from Yokohama to either Osaka or Kyoto. I found Willer Express. He needed credit card for online reservation. I also looked for probable accommodation in agoda website. They also needed credit card. Darn. 

I then picked some places I thought interesting and browsed for Osaka subway route map and Kyoto subway route map. 

September 11, I still hesitated buying shinkansen tickets because my friend told me that she bought night-bus ticket for only 5000 yen (compared to a 13,000 shinkansen ticket, yes it was a lot more cheaper). So I went to JR ticket office at Yokohama station. Guess what, he told me to order by phone. So I came back empty-handed. I googled and JR said their night-bus tickets for September 14 were sold-out. Bah.

September 12, once again I googled for the accommodation, now in booking.com website. Then I found it. There were apparently few hostels or guest houses didn't require credit card for online reservation. But by the time I knew, only one guest house suitable for me, and it was a dormitory room for 6 persons with bunk beds. The guest house name was HennkaWell, I took it. 

September 13, I (finally!) bought shinkansen tickets, reserved seats, September 15 for 8:06 departure from Shin-Yokohama, and September 17 for 15:17 departure from Kyoto. Hurray, I thought. I also informed hotel staff that I would like to check-out on September 15, then check-in again on September 17, and if it was possible to keep my luggage at the hotel. She said OK. More hurray, I thought.

September 14, I still didn't do packing.

... (to be continued)

Wednesday, September 07, 2011

mY coLLage

Haha, Firefox designed a collage for me :D


Pretty, yes? Check it out at http://bit.ly/qIxLtA.


@Grey, September 7, 2011  

Saturday, June 18, 2011

Pengguna Jalan di Jakarta Paling Tak Bahagia di Dunia

Tadi pagi saya menemukan artikel menarik.

http://id.berita.yahoo.com/pengguna-jalan-di-jakarta-paling-tak-bahagia-di-054903466.html.

Can't more agree.



@Grey, June 18, 2011  

Monday, May 02, 2011

reLiGion

Agama. Salah satu isu privasi sensitif dalam kehidupan publik. 

Saya pernah diajarkan mengenai fanatisme beragama. Kata guru agama saya, fanatik itu perlu. Karena fanatisme adalah meyakini bahwa agamanya yang benar. Beragama tanpa bersikap fanatik layaknya makan sayur tanpa garam, hambar rasanya. Karena ini masalah keyakinan. Kalau tidak fanatik, lalu untuk apa beragama?

Fanatisme seharusnya adalah privasi. Yang menjadi masalah adalah ketika fanatisme itu bertabrakan dengan fanatisme orang-orang di sekitarnya.

Maka yang terjadi adalah bentrok. Fisik. Lisan. Tulisan. Seandainya orang mengerti bahwa kata-kata bisa lebih kejam daripada sebilah pedang.

Jangan salahkan agamanya. Salahkan orang yang tidak memahami agamanya sendiri, bahkan mengajarkan ketidakpahamannya kepada orang lain. 


@Grey, May 2, 2011 

tranSforMer

Transformator (transformer) atau disebut juga trafo adalah peralatan listrik yang biasanya terdiri dari dua lilitan dan satu inti untuk mentransformasi tegangan atau arus dari lilitan satu ke lilitan yang lain. Dasarnya adalah hukum Faraday.

Pada trafo ideal, rasio lilitan akan sebanding dengan rasio tegangan, dan berbanding terbalik dengan rasio arus. Kenyataannya, tidak ada trafo ideal karena pada material pasti ada resistansi. Fluks magnetik juga tidak seluruhnya dapat "ditangkap" oleh inti dan ditransformasi kembali ke lilitan kedua. Sehingga akan selalu ada daya yang hilang. Pada trafo tegangan (voltage transformer/potential transformer) dan trafo daya (power transformer), yang dipentingkan adalah rasio tegangan input dan output. Sementara pada trafo arus (current transformer), fokusnya adalah rasio arus masukan dan keluaran.

Yang akan saya diskusikan di sini adalah bagaimana menentukan kapasitas trafo daya. Trafo daya digunakan pada jaringan distribusi listrik, di mana umumnya digunakan untuk mengubah sistem tegangan satu ke sistem tegangan yang lain.

Tidak terlalu susah menentukan kapasitas trafo di mana beban-bebannya bersifat statis, seperti sistem penerangan atau sistem pemanas. Cukup hitung total beban, dan tambahkan sekitar 10%-20% sesuai perkiraan penambahan beban di masa mendatang.

Trafo daya yang bebannya berupa motor-motor listrik memerlukan perhitungan yang sedikit lebih rumit. Selain perkiraan penambahan beban di masa mendatang, kita harus memperhitungkan kapasitas motor stand-by terbesar yang mungkin di-start. Perhatikan bahwa start motor akan menarik arus yang besar. Saat start motor, faktor daya motor biasanya sekitar 0,2. Hitung daya motor terbesar saat start, lalu jumlahkan dengan kapasitas semua beban lain. Kita akan mendapatkan kapasitas minimum trafo daya.

Jika kapasitas motor terbesar ini cukup besar dibandingkan dengan jumlah beban, kita perlu memperhatikan tegangan jatuh saat motor terbesar itu start. Kurvanya bisa dilihat di IEEE 141 (red book). Jika jatuh tegangan terlalu besar, perbesar kapasitas trafonya.


@Grey, May 2, 2011

Sunday, February 20, 2011

buSineSS (3)

Banyak karyawan, terkadang karena PHK, terkadang karena bosan dimarahi atasannya, terkadang jenuh dengan pekerjaannya, atau dengan alasannya masing-masing, akhirnya membuka usaha sendiri. Saya menaruh hormat kepada orang-orang ini, karena mereka kreatif dan berani, dua hal yang belum saya miliki sampai saat ini, hehe... Anyway, banyak anggapan mereka sudah memasuki kuadran B. Robert T Kiyosaki dalam bukunya menyatakan: belum tentu.

Seseorang yang membuka usaha sendiri, kemudian mempunyai keterlibatan yang terlalu besar dalam usahanya itu, belum bisa dikatakan telah memasuki kuadran B. Sangat besar kemungkinannya ia masih berada di kuadran S. Seorang B adalah orang yang dapat mendelegasikan bisnisnya kepada orang lain. Sementara seorang S tidak dapat mendelegasikan bisnisnya kepada orang lain. Kembali pada pengetesan yang pernah saya sebutkan dalam posting sebelum ini: jika ia tidak terlibat dalam bisnisnya setahun, apakah bisnisnya hancur, ataukah bisnisnya berkembang?

Nah, seorang B bisa berangkat dari seorang S. Misalnya, awalnya seseorang membuka usaha sendiri. Lambat laun, ia mulai mempercayakan bisnisnya kepada seseorang yang menurutnya mampu menjalankan bisnis tersebut. Lalu, ia pun mulai membuka cabang di tempat lain dan mempercayakan pengelolaannya kepada seseorang yang menurutnya mampu. Lalu, di tempat lainnya lagi. Dan di tempat lainnya lagi. Dalam hal ini ia telah menjadi seorang B.

Seorang B yang baik memahami sistem yang diperlukan untuk menjalankan bisnisnya. Sistem suplai bahan baku. Sistem distribusi. Sistem pemasaran. Sistem akuntansi. Sistem hukum. Dan lain-lain.

Selanjutnya Robert T Kiyosaki membahas investor. Seperti saya pernah sebutkan dalam posting saya sebelum ini, seorang B bisa menjadi seorang I yang baik karena ia mempunyai kemampuan yang diperlukan seorang I.

Setelah membaca bukunya yang lain, menurut saya si penulis sebenarnya membidik warga Amerika Serikat dan rencana pensiun karyawannya. Sejauh yang saya tangkap, karyawan di Amerika Serikat saat buku itu ditulis (saya kurang tahu bagaimana kondisi saat ini) di"paksa" oleh Undang-undang untuk menginvestasikan dana pensiunnya dalam investasi-investasi seperti saham atau reksadana, dan di"paksa" untuk baru mengambilnya setelah mereka pensiun. Yang menjadi masalah adalah ketika jumlah karyawan yang pensiun sangat besar pada saat yang hampir bersamaan. Ia memperkirakan para pensiunan ini akan menjual investasinya secara hampir bersamaan pula, menyebabkan pasar saham anjlok. Mungkin tidak terlalu menjadi masalah bagi karyawan yang masih bekerja. Masalahnya adalah bagi para pensiunan itu sendiri, karena dana pensiun mereka -atau penghasilan mereka- ada di pasar yang anjlok, bisa dibilang mereka akan kehilangan dana pensiun itu. Sementara pensiunan memerlukan dana untuk kebutuhan sehari-hari dan kesehatan mereka.

Si penulis  juga menyoroti bahwa "keterpaksaan" menjadi investor ini tidak dibarengi dengan pendidikan finansial di sekolah-sekolah, sehingga para investor dadakan ini berinvestasi tanpa kecerdasan finansial. Mereka berinvestasi dengan arahan orang-orang yang akan mendapat keuntungan dari investasi mereka. Dan ini sangat riskan.

Karena itulah si penulis mengajukan alternatif bagaimana menjadi seorang I dengan aman bagi seorang E dan S. Yaitu dengan menjadi seorang B terlebih dahulu. Atau setidaknya, belajarlah dulu mengenai investasi!

Penerapannya di Indonesia? Well, meskipun rencana pensiun di Indonesia berbeda dengan rencana pensiun di Amerika Serikat, toh poin-poinnya tetap bisa diterapkan di sini. Jangan main-main dengan investasi Anda, karena itu adalah uang Anda. Jadi pelajarilah dulu resiko-resikonya. Jika Anda ingin berbisnis, belajarlah dan berbisnislah. Apa yang akan Anda dapatkan sebanding dengan apa yang akan Anda usahakan :)

@Grey, February 20, 2011

Sunday, February 13, 2011

buSineSS (2)

Mari kita lanjutkan...

Ada orang yang membangun bisnis, sehingga bisnis itu bisa mendatangkan penghasilan baginya. Ini disebut Business Owner (B/pemilik bisnis). Contohnya adalah para pemilik bisnis.

Terakhir, adalah orang yang menanamkan uangnya dalam aset, kemudian ia menerima pembagian keuntungannya sebagai penghasilan. Disebut sebagai Investor (I/investor). Contohnya adalah para pemilik saham.

Kedua kuadran ini dikelompokkan ke dalam Kuadran Kanan.

Melihat hubungan antarkuadran adalah seperti ini: E bekerja untuk B dan mendapatkan penghasilan dari B, B membangun aset dengan bantuan I dan membagi keuntungannya dengan I, sedangkan S terkait dengan ketiganya sebagai sumber penghasilan. Pemetaan seperti ini membantu memahami perputaran uang di dunia, untuk berikutnya memahami dunia finansial.

Secara umum, perbedaan antara Kuadran Kiri dan Kuadran Kanan adalah bagaimana seseorang menerima penghasilannya. Cara pengetesannya cukup sederhana. Jika seseorang berhenti melakukan pekerjaannya selama satu tahun saja, apakah pekerjaannya itu tetap memberikan penghasilan baginya?

Di Kuadran Kiri, belum tentu (mungkin ada perusahaan yang memberikan gaji untuk cuti setahun). Di Kuadran Kanan, bisa. Orang-orang di Kuadran Kanan membangun aset atau menanamkan uangnya ke dalam suatu aset, sehingga aset itu memberikannya penghasilan. Dan kalau asetnya sehat, aset itu akan memberinya penghasilan meskipun ditinggalkan selama setahun.

Robert T. Kiyosaki menawarkan cara untuk berpindah dari Kuadran Kiri ke Kuadran Kanan.

Tidak pernah dan tidak akan pernah mudah untuk berpindah kuadran, begitu selalu diingatkan dalam bukunya. Karena perpindahan kuadran melibatkan juga perpindahan emosi finansial orang yang bersangkutan. Emosi finansial mempengaruhi kemampuan berpikir logis dan ketajaman analisa dalam masalah finansial. Orang-orang yang berada di Kuadran Kiri umumnya takut akan resiko finansial sehingga menghindari apapun yang mengandung resiko itu. Sedangkan orang-orang yang berada di Kuadran Kanan umumnya mengetahui ada resiko finansial, namun ia mempelajari resiko tersebut sehingga ia mampu membuat keputusan finansial.

Menurutnya, cara termudah dan teraman untuk berpindah adalah dengan menjadi seorang B. Mengapa? Karena menjadi seorang B bisa dimulai dari nol, sedangkan untuk menjadi seorang I diperlukan modal dan ia akan berhadapan dengan resiko yang mungkin belum dipahami oleh orang-orang Kuadran Kiri. Selanjutnya, saat seseorang telah berhasil menjadi seorang B, ia bebas untuk tetap di kuadran B atau berpindah ke kuadran I. Karena seorang B telah memiliki kemampuan yang diperlukan seorang I untuk berhasil, yaitu kemampuan menganalisis keadaan.

bersambung lagi...


@layla, February 12, 2011

Saturday, February 12, 2011

buSineSS (1)

Akhir-akhir ini saya sedang tertarik dengan bisnis. Habisnya, kerjaan baru longgar. Mau ngegame sudah bosan. Mau nonton film lama-lama pusing juga kalau digeber 8/7 (8 jam 7 hari seminggu, hehe...).

Seorang teman saya banyak bercerita bahwa dia ingin sukses berbisnis. Maklum, penghasilan pekerja kontrak bisa tak menentu, apalagi kalau suatu saat memasuki usia di atas setengah abad. Lambat-laun saya pun jadi tertarik belajar tentang bisnis.

Sebenarnya dari dulu saya ingin memutar uang saya. Tetapi, saya tidak mau terjun tanpa sedia parasut. Makanya sampai saat ini saya masih menahan diri pada investasi aman, seperti tabungan dan deposito. Sedikit saya investasikan pada bisnis kecil-kecilan, balik syukur, tidak balik ya resiko, namanya juga membantu. Dan ternyata memang saya kebagian "resiko"nya, belum kebagian "syukur"nya, hahaha...

Lalu saya pun beli buku The Cash Flow Quadrant, sekuelnya Rich Dad Poor Dad. Saya dulu mengira saya akan bosan dengan buku ini, tapi ternyata tidak juga, hehe... Manusia memang bisa berubah.

Secara umum, saya setuju dengan poin-poinnya. Bahwa kita perlu untuk belajar finansial. Apa salahnya belajar finansial?

Robert T. Kiyosaki membagi sumber pencaharian manusia dalam empat kuadran. Satu orang bisa hanya terfokus pada satu kuadran, atau bisa juga ahli dalam satu kuadran namun tetap berkecimpung di kuadran yang lain. Ini hanyalah masalah kenyamanan masing-masing orang dalam mencari penghasilan.

Ada orang yang lebih suka bekerja untuk orang lain, untuk kemudian dibayar secara rutin sesuai "waktu yang dia luangkan untuk pekerjaan tersebut". Ini disebut sebagai kuadran Employee (E/pekerja). Contohnya direktur, manajer, karyawan, pegawai negeri, bahkan sepertinya presiden juga bisa dimasukkan dalam kategori ini.

Ada orang yang lebih suka bekerja untuk orang lain, untuk kemudian dibayar sesuai "hasil pekerjaannya". Ini definisi saya sih. Kalau di buku itu didefinisikan sebagai orang yang bekerja untuk dirinya sendiri, disebut sebagai kuadran Self-Employed (S/pekerja lepas). Contohnya dokter yang buka praktek di rumah, konsultan freelance, pengacara (kalau tidak salah), atau orang yang membuka usaha di rumah.

Kuadran E dan kuadran S ini dikelompokkan dalam Kuadran Kiri.

bersambung...


@Grey, February 12, 2011