How to size a generator?
Usually, books tell us to use rule of thumb. Simple formula, but I forget it, hahaha... If I'm not mistaken, then it will be the total load (not connected load) plus at least 1.2 times the largest standby motor capacity. Why do you need the 20%? Well, it's not for future load. It's for the compensation of motor starting.
You see, when a motor is started, it draws current from generator much higher than normal. It can reach 500-800% of its normal current. As the consequences, the sytem voltage will drop. How much will the voltage drop? It depends on the reserve power the system has.
One thing to remember, the system itself has a limitation of voltage drop. Usually, the running motor will loss its power when the motor terminal voltage is lower than 80% of its rating voltage. The started motor will be failed to be started. And the contactor in motor starter or feeder will open if the voltage is lower than 70% of its rating voltage.
It is troublesome to see that up until now I can't find some formula in books or standards to calculate how much the reserve power is needed considering this voltage drop on motor starting.
The formula I use now? Well, since I can't find it in any literature, I believe that it's kind of company belongings. I just wondering, is there general formula? I mean, a formula all electrical engineers know and use.
Anyone can tell me the formula?
@layla, 1:37 AM 3/22/2009
Sunday, October 25, 2009
Thursday, October 15, 2009
thEsE days
New habit. Trying not to get involved any further. But how can I? It's my drugs. The more I consume, the more I want it.
My prediction, this thing will hurt me in some months. And again, I don't avoid it.
~@layla, after idle months~
My prediction, this thing will hurt me in some months. And again, I don't avoid it.
~@layla, after idle months~
Sunday, August 23, 2009
mY woRk
Sudah tiga tahun aku disini.
Reaksi pertama: "Hah, sudah lama juga ya?"
My response: "Yeah, makes me wondering, kenapa aku masih bekerja disini?"
Job desc. Melakukan kalkulasi untuk menentukan rating electrical equipment yang akan dibeli. Melakukan simulasi untuk memastikan rating-nya cukup. Membuat data sheet dari project specification. Membuat dokumen requisition. Mengecek penawaran vendor dari segi teknis. Review vendor drawing. Review dokumen dari departemen lain yg terkait dengan kebutuhan listrik. Supervisi instalasi.
Not much, but sometimes really exhausting.
~@layla~
Reaksi pertama: "Hah, sudah lama juga ya?"
My response: "Yeah, makes me wondering, kenapa aku masih bekerja disini?"
Job desc. Melakukan kalkulasi untuk menentukan rating electrical equipment yang akan dibeli. Melakukan simulasi untuk memastikan rating-nya cukup. Membuat data sheet dari project specification. Membuat dokumen requisition. Mengecek penawaran vendor dari segi teknis. Review vendor drawing. Review dokumen dari departemen lain yg terkait dengan kebutuhan listrik. Supervisi instalasi.
Not much, but sometimes really exhausting.
~@layla~
Sunday, June 28, 2009
fONts?
Akhir-akhir ini aku punya metode baru sortir buku yang aku ingin beli.
Font.
Sudah beberapa minggu ini, atau mungkin beberapa bulan, aku tidak membaca buku yang lebih tebal daripada komik. Semua pembatas bukuku masih berhenti di halaman yang sama.
Maka aku mulai membatasi buku-buku yang akan kubeli. Salah satunya adalah dari font. Font dan spasi. Alasannya tentu saja, kenyamanan mata. Sudah cukup sering aku tak tahan meneruskan membaca buku karena font tulisannya tidak memanjakan mataku. Atau spasi antarbaris nya yang terlalu dekat, seakan tidak menyisakan apapun untuk berimajinasi selain tulisan.
Hummm... bahkan dengan itu pun aku masih tetap sulit menyentuh buku-bukuku lagi :(
~@layla, June 29, 2009~
Font.
Sudah beberapa minggu ini, atau mungkin beberapa bulan, aku tidak membaca buku yang lebih tebal daripada komik. Semua pembatas bukuku masih berhenti di halaman yang sama.
Maka aku mulai membatasi buku-buku yang akan kubeli. Salah satunya adalah dari font. Font dan spasi. Alasannya tentu saja, kenyamanan mata. Sudah cukup sering aku tak tahan meneruskan membaca buku karena font tulisannya tidak memanjakan mataku. Atau spasi antarbaris nya yang terlalu dekat, seakan tidak menyisakan apapun untuk berimajinasi selain tulisan.
Hummm... bahkan dengan itu pun aku masih tetap sulit menyentuh buku-bukuku lagi :(
~@layla, June 29, 2009~
Thursday, April 16, 2009
eLectioN
Mendarat di bandara Adisucipto sekitar jam 8.30 malam, terlambat setengah jam dari jadwal. Well, biasalah... lalu pesan taksi.
.
"Pemilu mau nyontreng apa Mbak?" sang supir taksi bertanya.
"Hoo... ada lah Pak... "
"Wah, kalau jaman sekarang sudah ga ada Mbak yang namanya luber. Makanya saya berani tanya Mbak. Kalau saya sih pilih SBY (maap sebut merek, biar gampang - red)."
"Wah... berarti pilih Demokrat dong Pak."
"Ya... Demokrat atau apa, pokoknya yang ada Pak SBY nya."
Hmm... andaikan dia fans Mega, berarti dia pilih PDIP. Andaikan dia fans JK, berarti Golkar lah yang dia contreng ketika pemilu hari berikutnya. Kalau mendadak Mega dan SBY tukeran partai, ya pendukung partainya ikut tukeran.
Partai dipilih berdasarkan kharisma tokohnya. Bukannya sikap politik, bukannya pandangan politik, dan bukannya tindakan politik partai itu sendiri. Lalu batasan antara tokoh politik dan partai politik menjadi bias.
Toh, semua partai mengajukan program abstrak yang sama. Tidak ada bedanya. Tidak menarik. Apa yang bisa dipilih dari 100 apel dengan warna sama?
Paling-paling baunya.
Kalau belum tercium bau busuk, ya berarti si apel masih bisa dimakan.
~layla, 160409~
.
"Pemilu mau nyontreng apa Mbak?" sang supir taksi bertanya.
"Hoo... ada lah Pak... "
"Wah, kalau jaman sekarang sudah ga ada Mbak yang namanya luber. Makanya saya berani tanya Mbak. Kalau saya sih pilih SBY (maap sebut merek, biar gampang - red)."
"Wah... berarti pilih Demokrat dong Pak."
"Ya... Demokrat atau apa, pokoknya yang ada Pak SBY nya."
Hmm... andaikan dia fans Mega, berarti dia pilih PDIP. Andaikan dia fans JK, berarti Golkar lah yang dia contreng ketika pemilu hari berikutnya. Kalau mendadak Mega dan SBY tukeran partai, ya pendukung partainya ikut tukeran.
Partai dipilih berdasarkan kharisma tokohnya. Bukannya sikap politik, bukannya pandangan politik, dan bukannya tindakan politik partai itu sendiri. Lalu batasan antara tokoh politik dan partai politik menjadi bias.
Toh, semua partai mengajukan program abstrak yang sama. Tidak ada bedanya. Tidak menarik. Apa yang bisa dipilih dari 100 apel dengan warna sama?
Paling-paling baunya.
Kalau belum tercium bau busuk, ya berarti si apel masih bisa dimakan.
~layla, 160409~
Saturday, January 03, 2009
MeMory
Terkadang, saat mendengarkan lagu tertentu, secara otomatis perasaanku kembali ke saat dimana aku sering mendengarkannya.
Misalnya saja lagu yang kudengarkan sekarang, lagunya My Chemical Romance... judulnya... Disenchanted. Yang kuingat dari lagu ini adalah mejaku yang masih ada di tempat yang lama, dan aku sedang asyik mengerjakan proposal suatu proyek sampai jam 8 atau 9 malam, dan aku tahu ada seseorang yang melakukan hal yang kurang lebih sama di mejanya di lantai yang berbeda.
Sebagaimana bau hujan yang menyentuh tanah selalu membuat perasaanku ringan. Atau bau pengharum ruangan yang membuatku ingin kembali ke beberapa bulan lalu dan melakukan segalanya dengan berbeda. Lagu seperti aroma. Inderaku mengenalinya untuk satu kenangan tertentu.
Kalau kamu tanya, lagu-lagu apa yang kudengarkan selama aku mengerjakan TA, sudah pasti aku lupa. Tapi saat aku mendengarkan lagunya, maka aku bisa bilang lagu itu membuatku teringat saat aku mengerjakan TA.
@warnet-depan-kosan, 030109
Misalnya saja lagu yang kudengarkan sekarang, lagunya My Chemical Romance... judulnya... Disenchanted. Yang kuingat dari lagu ini adalah mejaku yang masih ada di tempat yang lama, dan aku sedang asyik mengerjakan proposal suatu proyek sampai jam 8 atau 9 malam, dan aku tahu ada seseorang yang melakukan hal yang kurang lebih sama di mejanya di lantai yang berbeda.
Sebagaimana bau hujan yang menyentuh tanah selalu membuat perasaanku ringan. Atau bau pengharum ruangan yang membuatku ingin kembali ke beberapa bulan lalu dan melakukan segalanya dengan berbeda. Lagu seperti aroma. Inderaku mengenalinya untuk satu kenangan tertentu.
Kalau kamu tanya, lagu-lagu apa yang kudengarkan selama aku mengerjakan TA, sudah pasti aku lupa. Tapi saat aku mendengarkan lagunya, maka aku bisa bilang lagu itu membuatku teringat saat aku mengerjakan TA.
@warnet-depan-kosan, 030109
Saturday, November 29, 2008
shaRing pictuRes
Some month ago I decided to (again) enjoy my life. Well, I'd been working for almost 2 years that time, and I hadn't spend my money quite much for myself (I think). And so, I thought it was time to try something new.Snorkeling, around Kepulauan Seribu (or Thousand Islands in english). Yippie!
I didn't have a camera (until now actually), so I could only use my handphone to take some pictures. Sorry if they're kind of blur or something :D
Of course you
can't take some pictures while you are snorkeling, hahahaha... First picture is "bulu babi" (dunno how to translate), at "keramba" (a place for ... fishing? ouch, my english is very bad...) near Pulau Pramuka (or Scout Island if you want to translate :D). Second one is also "bulu babi". No, there's no story this time. Just wanna share some pictures :)
@Grey, Nov 29, 2008
Saturday, October 25, 2008
beautY
Betapa relatifnya arti kecantikan.
Sekarang, yang dinamakan cantik mungkin adalah tubuh langsing, tinggi, bak foto model.
Dulu, yang dianggap cantik mungkin adalah tubuh yang gemuk, menandakan kesuburan.
Waktu main ke Malaka beberapa waktu lalu, aku diantar melihat sisa-sisa standar kecantikan di Cina sampai awal abad 20. Sayang aku tak punya fotonya.
http://en.wikipedia.org/wiki/Footbinding
http://www.sfmuseum.org/chin/foot.html
Bukan kaki orangnya, melainkan sepatunya. Bahkan mereka tidak mau melihat bagaimana kaki-kaki itu rusak. Mereka tidak ingin melihat kaki para perempuan ini tanpa sepatu. Sepatu yang kecil mungil itulah yang menjadi standar kecantikan.
Kecantikan itu relatif. Relatif terhadap waktu. Relatif terhadap lokasi. Relatif terhadap standar masyarakat. Jadi tak perlu lah menyiksa diri demi kecantikan. Just be yourself!
@Grey, 281008
Sekarang, yang dinamakan cantik mungkin adalah tubuh langsing, tinggi, bak foto model.
Dulu, yang dianggap cantik mungkin adalah tubuh yang gemuk, menandakan kesuburan.
Waktu main ke Malaka beberapa waktu lalu, aku diantar melihat sisa-sisa standar kecantikan di Cina sampai awal abad 20. Sayang aku tak punya fotonya.
http://en.wikipedia.org/wiki/Footbinding
http://www.sfmuseum.org/chin/foot.html
Bukan kaki orangnya, melainkan sepatunya. Bahkan mereka tidak mau melihat bagaimana kaki-kaki itu rusak. Mereka tidak ingin melihat kaki para perempuan ini tanpa sepatu. Sepatu yang kecil mungil itulah yang menjadi standar kecantikan.
Kecantikan itu relatif. Relatif terhadap waktu. Relatif terhadap lokasi. Relatif terhadap standar masyarakat. Jadi tak perlu lah menyiksa diri demi kecantikan. Just be yourself!
@Grey, 281008
Friday, July 11, 2008
a CaN
Akhir minggu lalu, pergi ke Bandung dengan cara yang sungguh tragis. Berdiri selama 3 jam di perbatasan antar-gerbong KA.
Selama satu jam pertama di siang menjelang sore itu, kaki masih kuat, badan masih cukup segar, walaupun perut kosong sejak pagi.
Satu jam berikutnya, mata mulai berkunang-kunang, kepala mulai pening. Posisiku yang berada di perbatasan antar-gerbong, atau dengan kata lain ada di depan toilet, membuatku enggan memesan makanan. Namun, tubuh yang mulai kelelahan mulai menuntut saat nasi goreng (beserta pembawanya tentu saja) berjalan dari gerbong ke gerbong di depan mata. Akhirnya aku menyerah dan membeli sekaleng pocari sweat (numpang iklan-red) untuk setidaknya mendapatkan sedikit tenaga.
Tak butuh waktu lama untuk menghabiskan isinya tentu saja. Dan, sambil celingukan menunggu petugas lewat, kaleng kosong itu pun kutimang-timang saja.
Seorang lelaki bernasib sama denganku menatapku dan bertanya, "Mau dibuang ya Mbak?" Aku mengangguk. Dia mengulurkan tangan. Kupikir sekilas, ah, baik sekali orang ini, membantuku membawakan sampah.
Sedetik kemudian, kaleng kosong itu pun lenyap, dibuang keluar melalui celah antar-gerbong.
-Avalanche, 110708-
Selama satu jam pertama di siang menjelang sore itu, kaki masih kuat, badan masih cukup segar, walaupun perut kosong sejak pagi.
Satu jam berikutnya, mata mulai berkunang-kunang, kepala mulai pening. Posisiku yang berada di perbatasan antar-gerbong, atau dengan kata lain ada di depan toilet, membuatku enggan memesan makanan. Namun, tubuh yang mulai kelelahan mulai menuntut saat nasi goreng (beserta pembawanya tentu saja) berjalan dari gerbong ke gerbong di depan mata. Akhirnya aku menyerah dan membeli sekaleng pocari sweat (numpang iklan-red) untuk setidaknya mendapatkan sedikit tenaga.
Tak butuh waktu lama untuk menghabiskan isinya tentu saja. Dan, sambil celingukan menunggu petugas lewat, kaleng kosong itu pun kutimang-timang saja.
Seorang lelaki bernasib sama denganku menatapku dan bertanya, "Mau dibuang ya Mbak?" Aku mengangguk. Dia mengulurkan tangan. Kupikir sekilas, ah, baik sekali orang ini, membantuku membawakan sampah.
Sedetik kemudian, kaleng kosong itu pun lenyap, dibuang keluar melalui celah antar-gerbong.
-Avalanche, 110708-
Monday, May 12, 2008
beinG Down
I hate being down.
Almost four months, and I'm still down. What a bad day i had back then.
*Somebody, save me!
~Seoul, May 12, 2008~
Almost four months, and I'm still down. What a bad day i had back then.
*Somebody, save me!
~Seoul, May 12, 2008~
Saturday, April 26, 2008
INDONESIAN students vs KOREAN students
"Maya, students here, in Korea, study really really hard..."
"Every day? Every year?" I cut it.
"Yes, every day, every year. How about students in your country?"
After 15 seconds thinking, I replied,
"Students in Indonesia? We study only in our final year."
~@ Seoul, April 26, 2008, 10.23 p.m.~
"Every day? Every year?" I cut it.
"Yes, every day, every year. How about students in your country?"
After 15 seconds thinking, I replied,
"Students in Indonesia? We study only in our final year."
~@ Seoul, April 26, 2008, 10.23 p.m.~
Monday, February 25, 2008
lanGuaGe
Seorang teman mengirimkan email ke milis menanyakan maksud sebuah paragraf yang dikritik dalam kolom bahasa satu surat kabar Indonesia. Begini paragraf yang dimaksudkannya:
"Jika diskursivitas cenderung pada narsisisme pikiran, maka narasi empatis dalam kritik akan mencairkan kemampatan dan koersivitas opini, dengan cara terus mengayuhkan seluruh muatan nalar dalam tulisan ke wilayah ayunan leksikalnya, untuk menunjukkan kekenyalan dan keleluasaan imajinatif tulisan."
Saya pernah "bermain" (tidak sampai berkecimpung dan berkubang sepenuhnya) di dunia jurnalistik, total sekitar 5 tahun dihitung sejak saya masuk sie jurnalistik di SMA saya. Saya tahu orang-orang pers adalah orang terdepan menghadapi bahasa dan perkembangannya, tentu saja selain sastrawan dan kritikus sastra. Tetapi, bahkan sampai saat ini pun, saya paling menghindari keharusan menggunakan (dan membaca, dan mendengar) kata-kata yang saya sebut sebagai kata-katanya "bahasa dewa".
Saya masih menganggap bahasa adalah alat komunikasi. Bahasa lisan, bahasa tulis, bahasa tubuh. Saat komunikator tak mampu menyampaikan maksudnya kepada komunikan, saat itu juga bahasa gagal memenuhi fungsinya.
Bahasa menunjukkan bangsa. Namun, alangkah baiknya jika bangsa tidak merasa asing dengan bahasanya sendiri.
@Avalanche, 2:13 PM 11/8/2006 minus satu jam
"Jika diskursivitas cenderung pada narsisisme pikiran, maka narasi empatis dalam kritik akan mencairkan kemampatan dan koersivitas opini, dengan cara terus mengayuhkan seluruh muatan nalar dalam tulisan ke wilayah ayunan leksikalnya, untuk menunjukkan kekenyalan dan keleluasaan imajinatif tulisan."
Saya pernah "bermain" (tidak sampai berkecimpung dan berkubang sepenuhnya) di dunia jurnalistik, total sekitar 5 tahun dihitung sejak saya masuk sie jurnalistik di SMA saya. Saya tahu orang-orang pers adalah orang terdepan menghadapi bahasa dan perkembangannya, tentu saja selain sastrawan dan kritikus sastra. Tetapi, bahkan sampai saat ini pun, saya paling menghindari keharusan menggunakan (dan membaca, dan mendengar) kata-kata yang saya sebut sebagai kata-katanya "bahasa dewa".
Saya masih menganggap bahasa adalah alat komunikasi. Bahasa lisan, bahasa tulis, bahasa tubuh. Saat komunikator tak mampu menyampaikan maksudnya kepada komunikan, saat itu juga bahasa gagal memenuhi fungsinya.
Bahasa menunjukkan bangsa. Namun, alangkah baiknya jika bangsa tidak merasa asing dengan bahasanya sendiri.
@Avalanche, 2:13 PM 11/8/2006 minus satu jam
Monday, February 18, 2008
sMS
Tadi siang, seorang teman mengirimkan aku sms ini (kukutip sesuai aslinya):
Suatu hR 'ciNta' brtanya kPd 'prsahabatan',"knp kau ada,pdhL sdh adA aku?" 'pRsahabatan menjwb,"untuk memberikan senyuman,saat cinta mEmberimu kesedihaN.."
Kadang kupikir, apa temen-temenku punya indra keenam ya? :)
@Avalanche, 130208
Suatu hR 'ciNta' brtanya kPd 'prsahabatan',"knp kau ada,pdhL sdh adA aku?" 'pRsahabatan menjwb,"untuk memberikan senyuman,saat cinta mEmberimu kesedihaN.."
Kadang kupikir, apa temen-temenku punya indra keenam ya? :)
@Avalanche, 130208
Tuesday, November 13, 2007
a sOng
My sister like it very much and recommend it to me. Well, good song I think... Not to mention that it's original sound track of a cool movie I'd just watched with "someone" :D So, by Take That, here it is...
Title: Rule the World
You light the skies, up above me
A star, so bright, you blind me, yeah
Don’t close your eyes
Don’t fade away, don’t fade away-
reff:
Oh
Yeah you and me we can ride on a star
If you stay with me girl
We can rule the world-
Yeah you and me we can light up the sky
If you stay by my side
We can rule the world-
If walls break down, I will comfort you
If angels cry, oh I’ll be there for you
You've saved my soul
Don’t leave me now, don’t leave me now
*reff
Ooooooooh
All the stars are coming out tonight
They're lighting up the sky tonight
For you, for you
*reff
All the stars are coming out tonight (oooooooh)
They’re lighting up the sky tonight
For you, for you-
Title: Rule the World
You light the skies, up above me
A star, so bright, you blind me, yeah
Don’t close your eyes
Don’t fade away, don’t fade away-
reff:
Oh
Yeah you and me we can ride on a star
If you stay with me girl
We can rule the world-
Yeah you and me we can light up the sky
If you stay by my side
We can rule the world-
If walls break down, I will comfort you
If angels cry, oh I’ll be there for you
You've saved my soul
Don’t leave me now, don’t leave me now
*reff
Ooooooooh
All the stars are coming out tonight
They're lighting up the sky tonight
For you, for you
*reff
All the stars are coming out tonight (oooooooh)
They’re lighting up the sky tonight
For you, for you-
Saturday, April 28, 2007
Behind the scene: Ekskursi Aroes Koeat ITB 2006
Maaf, bukan mau bercerita tentang proses persiapan kegiatan kulker kami, hanya ingin berbagi cerita tentang acara-acara main kami.
Rabu malam, ke studio TransTV menonton ExtravaganzABG (huek...) dan Lepas Malam. Fufu, sebenarnya ini ajang melihat-lihat cewek cakep buat 90% peserta kulker :D Terutama ExtravaganzABG tuh... benar-benar acara yang garing dan aneh.... Adapun dalam Lepas Malam, fufu, kami sungguh beruntung. Sempat khawatir karena pembawa acaranya bukan lagi Farhan. Eh, ternyata penggantinya tidak kalah kocak: Indi. Jadi lega... :D Bintang tamunya KD, Titi DJ, Ruth Sahanaya, dan Komeng. Dan, orang paling cakep di ruangan itu -cowok, bukan cewek ;) adalah pengarah acara atau apa pun itu namanya, hehe.... Lalu, ternyata bus kami diparkir bersebelahan dengan bus yang dipakai teman-teman Unpad yang juga datang ke tempat yang sama. Hoho, lagi-lagi: cewek-cewek cakep....
Kamis siang saat perjalanan, tiba-tiba tersadar di sebelah kanan kami ada bus yang melaju dengan kecepatan hampir sama membawa cewek-cewek berseragam. Perbincangan via kertas yang ditempelkan di kaca memberikan informasi bahwa mereka dari SMA 2 Sumedang. Haha, bus kami langsung miring ke kanan :D Guru mereka sampai tertawa melihat ulah kami :p
Kemudian, Kamis sore kami ke Pantai Kelapa Tujuh (benarkah itu namanya?) di Suralaya. Lampung tampak di seberang. Waktunya main di pantai! Uah... sudah berapa tahun yang lalu terakhir kali aku ke pantai ya? Hm... air laut yang menyapu kaki sampai lutut, pasir yang menelusup di antara jemari, angin yang menyegarkan.... Cowok-cowok sudah asik cebur-ceburan, main bola, malah ada yang cuma main pasir kayak anak kecil yang ada di film-film. Hehe... maklum, jarang sekali ke pantai.... Ada juga yang memisah ke bagian pantai yang jauh... (ehm ehm, si adek baru pdkt ya...).
Jumat malam, kami menginap di vila yang ada di Anyer. Sudah gelap, jadi tidak bisa melihat apa pun. Sabtu pagi, baru tampak, lingkungan vila ini bukan pantai berpasir, melainkan karang. Wah, susah, aku takut turun ke bawah. Jadi, ya hanya menikmati angin laut dari atas, melihat kepiting-kepiting dari atas, melihat ombak dari atas.... Setelah bosan, akhirnya menonton cowok-cowok main kartu bohong-bohongan :D
Terakhir adalah Dufan! It's time to have fun, guys! Dari kora-kora sampai rumah miring kami masuki :)) Benar-benar deh... karena prinsip rombongan kecil kami adalah mencoba sebanyak mungkin! Yah... kan kami hampir tidak pernah main ke Dufan. Tetapi, ada juga teman yang ketagihan kora-kora dan bom bom kar (eh, bagaimana sih menuliskannya?), mainnya itu-itu terus. Yang kusayangkan, waktu arung jeram, aku hampir tidak basah. Wuah... padahal kan aku yang ingin basah, eh... malah temanku yang tidak terlalu ingin basah yang basah kuyup dari atas sampai bawah... huhu....
Yap, penutup semester yang benar-benar asik, sepadan dengan semester berat yang baru saja dilalui :)
Bandung, 10:14 AM 1/23/2006
@ Faiz's brain
Rabu malam, ke studio TransTV menonton ExtravaganzABG (huek...) dan Lepas Malam. Fufu, sebenarnya ini ajang melihat-lihat cewek cakep buat 90% peserta kulker :D Terutama ExtravaganzABG tuh... benar-benar acara yang garing dan aneh.... Adapun dalam Lepas Malam, fufu, kami sungguh beruntung. Sempat khawatir karena pembawa acaranya bukan lagi Farhan. Eh, ternyata penggantinya tidak kalah kocak: Indi. Jadi lega... :D Bintang tamunya KD, Titi DJ, Ruth Sahanaya, dan Komeng. Dan, orang paling cakep di ruangan itu -cowok, bukan cewek ;) adalah pengarah acara atau apa pun itu namanya, hehe.... Lalu, ternyata bus kami diparkir bersebelahan dengan bus yang dipakai teman-teman Unpad yang juga datang ke tempat yang sama. Hoho, lagi-lagi: cewek-cewek cakep....
Kamis siang saat perjalanan, tiba-tiba tersadar di sebelah kanan kami ada bus yang melaju dengan kecepatan hampir sama membawa cewek-cewek berseragam. Perbincangan via kertas yang ditempelkan di kaca memberikan informasi bahwa mereka dari SMA 2 Sumedang. Haha, bus kami langsung miring ke kanan :D Guru mereka sampai tertawa melihat ulah kami :p
Kemudian, Kamis sore kami ke Pantai Kelapa Tujuh (benarkah itu namanya?) di Suralaya. Lampung tampak di seberang. Waktunya main di pantai! Uah... sudah berapa tahun yang lalu terakhir kali aku ke pantai ya? Hm... air laut yang menyapu kaki sampai lutut, pasir yang menelusup di antara jemari, angin yang menyegarkan.... Cowok-cowok sudah asik cebur-ceburan, main bola, malah ada yang cuma main pasir kayak anak kecil yang ada di film-film. Hehe... maklum, jarang sekali ke pantai.... Ada juga yang memisah ke bagian pantai yang jauh... (ehm ehm, si adek baru pdkt ya...).
Jumat malam, kami menginap di vila yang ada di Anyer. Sudah gelap, jadi tidak bisa melihat apa pun. Sabtu pagi, baru tampak, lingkungan vila ini bukan pantai berpasir, melainkan karang. Wah, susah, aku takut turun ke bawah. Jadi, ya hanya menikmati angin laut dari atas, melihat kepiting-kepiting dari atas, melihat ombak dari atas.... Setelah bosan, akhirnya menonton cowok-cowok main kartu bohong-bohongan :D
Terakhir adalah Dufan! It's time to have fun, guys! Dari kora-kora sampai rumah miring kami masuki :)) Benar-benar deh... karena prinsip rombongan kecil kami adalah mencoba sebanyak mungkin! Yah... kan kami hampir tidak pernah main ke Dufan. Tetapi, ada juga teman yang ketagihan kora-kora dan bom bom kar (eh, bagaimana sih menuliskannya?), mainnya itu-itu terus. Yang kusayangkan, waktu arung jeram, aku hampir tidak basah. Wuah... padahal kan aku yang ingin basah, eh... malah temanku yang tidak terlalu ingin basah yang basah kuyup dari atas sampai bawah... huhu....
Yap, penutup semester yang benar-benar asik, sepadan dengan semester berat yang baru saja dilalui :)
Bandung, 10:14 AM 1/23/2006
@ Faiz's brain
ZiaraH
Ziarah karya Iwan Simatupang, thanks to Zaki.... Akhirnya selesai juga aku membacanya....
A recommended novel. Iwan Simatupang cukup lugas menyampaikan apa yang ingin dikatakannya. Sebuah satire yang manis. Penceritaan yang cerdas tanpa menggurui. Tidak, tidak. Sang mantan pelukis yang juga telah menjadi mantan pengapur itu benci dengan istilah-istilah yang rumit. Ia benci dengan filsafat. Maka, tertawakanlah diri-diri yang sok filosofis. Hidup dan kehidupan itu indah, terlalu indah untuk dilihat dari kaca mata kuda.
Lalu, semua orang adalah sama, mempunyai hak yang sama. Semua mayat juga sama, mempunyai hak yang sama. Lucu, jika manusia hidup dikotak-kotakkan, setelah mati pun masih dikotak-kotakkan. Lucu, jika peraturan bukannya membuat hidup manusia lebih mudah.
Satu hal terakhir, jika ada satu orang gila di antara orang-orang waras, siapakah yang gila sebenarnya? Dan, jika ada satu orang normal di antara orang-orang gila, siapakah yang gila sebenarnya? He... pertanyaan menarik. Aku jadi teringat satu lirik tembang (lagu) Jawa yang isinya kurang lebih begini (maaf, aku sungguh-sungguh lupa, mohon ralat dari teman-teman sekalian):
Iki jamane jaman edan
Nek ra melu edan ra komanan
Nanging sakbegjane wong edan
Luwih begja sing isih eling Sang Pangeran
(Ini jamannya jaman gila
Kalau tidak ikut gila tidak kebagian
Tapi seberuntungnya orang gila
Lebih beruntung yang masih ingat Tuhan)
Aku juga ingat pertanyaan dari Koko, salah satu angkatan bangkot Boul saat kaderisasi: mana yang lebih penting, kenyataan, atau kesadaran? Aku, sebagai orang yang pragmatis, saat itu menjawab: tergantung. Kenyataan, dilihat dari mana? Kesadaran, untuk melihat apa? Seperti kutu di bulu-bulu kelinci (he, ingat Dunia Sophie...) yang tidak bisa melihat lebih jauh dari apa yang bisa dilihatnya, manusia yang sadar pun tak dapat mengetahui kenyataan bahwa bumi ini bulat dan berputar tanpa kesadaran bahwa ada kemungkinan seperti itu. Namun, manusia yang sadar yang berada di luar bumi tentunya mengetahui kenyataan itu.
Yah... nantinya pertanyaan bisa berkembang dalam diri kita masing-masing: jika kita berada dalam sistem, mampukah kita memperbaiki sistem, atau kita justru ikut terhanyut dalam sistem? Satu hal yang jelas, tak mungkin memperbaiki sistem dari luar saja. Tidak akan ada cukup keyakinan bahwa sistem telah benar-benar diperbaiki jika perbaikan hanya dilakukan dari luar.
Oh oh, ada hal lain yang harus kulakukan benar-benar. Sekian dulu untuk saat ini.
Bandung, 6:50 PM 1/15/2006
@ Faiz's brain
A recommended novel. Iwan Simatupang cukup lugas menyampaikan apa yang ingin dikatakannya. Sebuah satire yang manis. Penceritaan yang cerdas tanpa menggurui. Tidak, tidak. Sang mantan pelukis yang juga telah menjadi mantan pengapur itu benci dengan istilah-istilah yang rumit. Ia benci dengan filsafat. Maka, tertawakanlah diri-diri yang sok filosofis. Hidup dan kehidupan itu indah, terlalu indah untuk dilihat dari kaca mata kuda.
Lalu, semua orang adalah sama, mempunyai hak yang sama. Semua mayat juga sama, mempunyai hak yang sama. Lucu, jika manusia hidup dikotak-kotakkan, setelah mati pun masih dikotak-kotakkan. Lucu, jika peraturan bukannya membuat hidup manusia lebih mudah.
Satu hal terakhir, jika ada satu orang gila di antara orang-orang waras, siapakah yang gila sebenarnya? Dan, jika ada satu orang normal di antara orang-orang gila, siapakah yang gila sebenarnya? He... pertanyaan menarik. Aku jadi teringat satu lirik tembang (lagu) Jawa yang isinya kurang lebih begini (maaf, aku sungguh-sungguh lupa, mohon ralat dari teman-teman sekalian):
Iki jamane jaman edan
Nek ra melu edan ra komanan
Nanging sakbegjane wong edan
Luwih begja sing isih eling Sang Pangeran
(Ini jamannya jaman gila
Kalau tidak ikut gila tidak kebagian
Tapi seberuntungnya orang gila
Lebih beruntung yang masih ingat Tuhan)
Aku juga ingat pertanyaan dari Koko, salah satu angkatan bangkot Boul saat kaderisasi: mana yang lebih penting, kenyataan, atau kesadaran? Aku, sebagai orang yang pragmatis, saat itu menjawab: tergantung. Kenyataan, dilihat dari mana? Kesadaran, untuk melihat apa? Seperti kutu di bulu-bulu kelinci (he, ingat Dunia Sophie...) yang tidak bisa melihat lebih jauh dari apa yang bisa dilihatnya, manusia yang sadar pun tak dapat mengetahui kenyataan bahwa bumi ini bulat dan berputar tanpa kesadaran bahwa ada kemungkinan seperti itu. Namun, manusia yang sadar yang berada di luar bumi tentunya mengetahui kenyataan itu.
Yah... nantinya pertanyaan bisa berkembang dalam diri kita masing-masing: jika kita berada dalam sistem, mampukah kita memperbaiki sistem, atau kita justru ikut terhanyut dalam sistem? Satu hal yang jelas, tak mungkin memperbaiki sistem dari luar saja. Tidak akan ada cukup keyakinan bahwa sistem telah benar-benar diperbaiki jika perbaikan hanya dilakukan dari luar.
Oh oh, ada hal lain yang harus kulakukan benar-benar. Sekian dulu untuk saat ini.
Bandung, 6:50 PM 1/15/2006
@ Faiz's brain
uPDate
Well... sudah ada teman yang bertanya, why my blog hadn't been updated yet. Sibuk? Untuk mempersingkat cerita, anggaplah itu jawabannya, haha. Tapi, sebenarnya sih aku tidak sesibuk itu. Ada hal yang ingin kutuliskan, tapi masih kurancang di otak, lalu malah mandeg. Masih menunggu waktu yang tepat, mungkin :)
Lalu barusan aku bongkar-bongkar blog, dan aku menemukan beberapa draft yang dulu tidak aku publish, entah apa alasannya, heuheu.... Emh... OK, aku publish saja deh :)
@warnet
Lalu barusan aku bongkar-bongkar blog, dan aku menemukan beberapa draft yang dulu tidak aku publish, entah apa alasannya, heuheu.... Emh... OK, aku publish saja deh :)
@warnet
Thursday, March 15, 2007
peDeStrian
Jaman aku SD, guruku berkata kurang lebih begini, "Saat kalian berjalan kaki di jalan dengan jalur pejalan kaki, kalian bisa berjalan di sisi kiri. Tapi, jangan berjalan di sisi kiri jika jalan yang kalian lalui itu tidak mempunyai jalur pejalan kaki."
Logikanya sederhana saja, orang akan lebih waspada berjalan jika bisa melihat sepeda yang datang dari arah depan ketimbang musti bolak-balik melihat ke belakang untuk mengetahui apakah jarak truk gandeng yang datang masih 100 m ataukah tinggal 0.01 m.
Penerapannya? Sepertinya lebih banyak orang menganggap lebih benar untuk berjalan kaki searah dengan jalur kendaraan meski jalan itu tidak mengakomodasi pedestrian. Aku sendiri? Kalau sedang sayang diri sendiri, aku akan pindah ke sisi kanan jalan. Kalau sedang malas, aku tidak bisa marah saat hampir diserempet motor dari belakang.
Hm...
@Avalanche, 8:48 AM 2/28/2007
Logikanya sederhana saja, orang akan lebih waspada berjalan jika bisa melihat sepeda yang datang dari arah depan ketimbang musti bolak-balik melihat ke belakang untuk mengetahui apakah jarak truk gandeng yang datang masih 100 m ataukah tinggal 0.01 m.
Penerapannya? Sepertinya lebih banyak orang menganggap lebih benar untuk berjalan kaki searah dengan jalur kendaraan meski jalan itu tidak mengakomodasi pedestrian. Aku sendiri? Kalau sedang sayang diri sendiri, aku akan pindah ke sisi kanan jalan. Kalau sedang malas, aku tidak bisa marah saat hampir diserempet motor dari belakang.
Hm...
@Avalanche, 8:48 AM 2/28/2007
Wednesday, February 21, 2007
sCratCh
Nothing to write actually... huff... Let's see...
Aku merasa daya ingatku semakin parah saja. Ada saatnya, dimana aku berpikir: hey, let's write it in blog! But then, flap! Hal itu terlupakan begitu saja. Atau, aku merasa hal itu tidak terlalu menarik untuk kutuliskan. Atau, itu hanya alasanku saja.
Jadi, bukannya tak ada yang menarik. Banyak hal menarik. Hanya saja, untuk minggu-minggu terakhir ini, aku pamit, aku sedang tak ada mood untuk menuliskan hal-hal menarik itu secara runtut.
Maafkan aku, diriku. Terpaksa tidak mencapai targetku sendiri untuk menulis setidaknya sebulan sekali :(
@Avalanche
Aku merasa daya ingatku semakin parah saja. Ada saatnya, dimana aku berpikir: hey, let's write it in blog! But then, flap! Hal itu terlupakan begitu saja. Atau, aku merasa hal itu tidak terlalu menarik untuk kutuliskan. Atau, itu hanya alasanku saja.
Jadi, bukannya tak ada yang menarik. Banyak hal menarik. Hanya saja, untuk minggu-minggu terakhir ini, aku pamit, aku sedang tak ada mood untuk menuliskan hal-hal menarik itu secara runtut.
Maafkan aku, diriku. Terpaksa tidak mencapai targetku sendiri untuk menulis setidaknya sebulan sekali :(
@Avalanche
Saturday, December 23, 2006
GlenyenGan
Bulan lalu adalah bulan panen buku. Bursa buku, pameran buku... Alhasil aku punya banyak buku lama tapi baru, atau baru tapi lama. Terbitan lama, tapi baru aku beli. Atau, aku baru beli buku terbitan lama. Ya ya... whatever...
Dan alhasil, bulan ini adalah bulannya mabuk baca buku, hahaha....
Salah satu buku yang langsung aku sambar begitu kutemukan di pameran adalah Sugih Tanpa Banda, made by (alm) Umar Kayam. Uh... I really miss those characters: Pak Ageng, Mr Rigen dalah Ms Nansiyem beserta dua bedhes-nya, Prop Lemahamba dan Prop Prasodjo Legowo, plus Pak Joyo penjaja penggeng eyem. Waktu SD, kolom Umar Kayam ini adalah salah satu favoritku di SKH Kedaulatan Rakyat langganan keluargaku waktu itu, salah satu koran lokal yang cukup kuat menancapkan dominasinya di Jogja (menurutku pribadi sih, hehe...), selain cerbung SH Mintardja yang judulnya Api di Bukit Menoreh, or something like that (mohon maaf, ingatan lemah). Pokoknya kalau udah Selasa (atau Rabu, atau Kamis?), mataku langsung mencari kolom Umar Kayam di halaman pertama kolom paling kiri.
Yah, buku Sugih Tanpa Banda adalah kumpulan kedua kolom Umar Kayam dari awal 1991 sampai tahun baru 1994. Bagaimana sukanya aku pada tulisan Umar Kayam mungkin karena Umar Kayam pinter ngomong hal berat dengan cara yang ringan yang, kalau kata Sapardi di pengantarnya, disebut glenyengan. Menyindir khas Jawa. Mengingatkan khas Jawa. Memarahi khas Jawa. Dilakukan oleh rakyat kecil, wong cilik, termasuk untuk para priyagungnya, untuk para pemimpinnya. Dan kalau para priyagungnya ini orang Jawa, disindir, diingatkan, dimarahi sehalus apapun, ya seharusnya merasa dan memperbaiki diri. Di sinilah seninya orang Jawa, yang tidak mau mempermalukan orang lain, apalagi priyagungnya. Di sinilah seninya orang Jawa, yang dihina-dina orang-orang bukan Jawa dan orang-orang modern, karena membuat segalanya terasa begitu rumit dan repot. Kalau mau bilang itu salah ya bilang saja itu salah, tidak usah ngalor ngidul....
Lha mungkin para priyagung Jawa ini sudah hilang rasa-nya ya? Entah mengapa. Apakah para priyagung Jawa saat ini tidak pernah dilatih menjadi priyagung, dalam hal bagaimana dia mendengarkan suara rakyat, vox populi istilahnya? Semar, sang dewa yang turun ke bumi, mungkin tidak akan sabar berhadapan dengan priyagung zaman modern, yang tidak punya kepekaan sosial apa pun, lain halnya dengan Pandawa yang menjadi majikan Sang Semar di dunia.
Mungkin memang sudah saatnya glenyengan disimpan dalam memori masyarakat Jawa, untuk sewaktu-waktu saja dilontarkan sebagai pengingat budaya.
Hm...
Dan alhasil, bulan ini adalah bulannya mabuk baca buku, hahaha....
Salah satu buku yang langsung aku sambar begitu kutemukan di pameran adalah Sugih Tanpa Banda, made by (alm) Umar Kayam. Uh... I really miss those characters: Pak Ageng, Mr Rigen dalah Ms Nansiyem beserta dua bedhes-nya, Prop Lemahamba dan Prop Prasodjo Legowo, plus Pak Joyo penjaja penggeng eyem. Waktu SD, kolom Umar Kayam ini adalah salah satu favoritku di SKH Kedaulatan Rakyat langganan keluargaku waktu itu, salah satu koran lokal yang cukup kuat menancapkan dominasinya di Jogja (menurutku pribadi sih, hehe...), selain cerbung SH Mintardja yang judulnya Api di Bukit Menoreh, or something like that (mohon maaf, ingatan lemah). Pokoknya kalau udah Selasa (atau Rabu, atau Kamis?), mataku langsung mencari kolom Umar Kayam di halaman pertama kolom paling kiri.
Yah, buku Sugih Tanpa Banda adalah kumpulan kedua kolom Umar Kayam dari awal 1991 sampai tahun baru 1994. Bagaimana sukanya aku pada tulisan Umar Kayam mungkin karena Umar Kayam pinter ngomong hal berat dengan cara yang ringan yang, kalau kata Sapardi di pengantarnya, disebut glenyengan. Menyindir khas Jawa. Mengingatkan khas Jawa. Memarahi khas Jawa. Dilakukan oleh rakyat kecil, wong cilik, termasuk untuk para priyagungnya, untuk para pemimpinnya. Dan kalau para priyagungnya ini orang Jawa, disindir, diingatkan, dimarahi sehalus apapun, ya seharusnya merasa dan memperbaiki diri. Di sinilah seninya orang Jawa, yang tidak mau mempermalukan orang lain, apalagi priyagungnya. Di sinilah seninya orang Jawa, yang dihina-dina orang-orang bukan Jawa dan orang-orang modern, karena membuat segalanya terasa begitu rumit dan repot. Kalau mau bilang itu salah ya bilang saja itu salah, tidak usah ngalor ngidul....
Lha mungkin para priyagung Jawa ini sudah hilang rasa-nya ya? Entah mengapa. Apakah para priyagung Jawa saat ini tidak pernah dilatih menjadi priyagung, dalam hal bagaimana dia mendengarkan suara rakyat, vox populi istilahnya? Semar, sang dewa yang turun ke bumi, mungkin tidak akan sabar berhadapan dengan priyagung zaman modern, yang tidak punya kepekaan sosial apa pun, lain halnya dengan Pandawa yang menjadi majikan Sang Semar di dunia.
Mungkin memang sudah saatnya glenyengan disimpan dalam memori masyarakat Jawa, untuk sewaktu-waktu saja dilontarkan sebagai pengingat budaya.
Hm...
Subscribe to:
Posts (Atom)