My sister like it very much and recommend it to me. Well, good song I think... Not to mention that it's original sound track of a cool movie I'd just watched with "someone" :D So, by Take That, here it is...
Title: Rule the World
You light the skies, up above me
A star, so bright, you blind me, yeah
Don’t close your eyes
Don’t fade away, don’t fade away-
reff:
Oh
Yeah you and me we can ride on a star
If you stay with me girl
We can rule the world-
Yeah you and me we can light up the sky
If you stay by my side
We can rule the world-
If walls break down, I will comfort you
If angels cry, oh I’ll be there for you
You've saved my soul
Don’t leave me now, don’t leave me now
*reff
Ooooooooh
All the stars are coming out tonight
They're lighting up the sky tonight
For you, for you
*reff
All the stars are coming out tonight (oooooooh)
They’re lighting up the sky tonight
For you, for you-
Tuesday, November 13, 2007
Saturday, April 28, 2007
Behind the scene: Ekskursi Aroes Koeat ITB 2006
Maaf, bukan mau bercerita tentang proses persiapan kegiatan kulker kami, hanya ingin berbagi cerita tentang acara-acara main kami.
Rabu malam, ke studio TransTV menonton ExtravaganzABG (huek...) dan Lepas Malam. Fufu, sebenarnya ini ajang melihat-lihat cewek cakep buat 90% peserta kulker :D Terutama ExtravaganzABG tuh... benar-benar acara yang garing dan aneh.... Adapun dalam Lepas Malam, fufu, kami sungguh beruntung. Sempat khawatir karena pembawa acaranya bukan lagi Farhan. Eh, ternyata penggantinya tidak kalah kocak: Indi. Jadi lega... :D Bintang tamunya KD, Titi DJ, Ruth Sahanaya, dan Komeng. Dan, orang paling cakep di ruangan itu -cowok, bukan cewek ;) adalah pengarah acara atau apa pun itu namanya, hehe.... Lalu, ternyata bus kami diparkir bersebelahan dengan bus yang dipakai teman-teman Unpad yang juga datang ke tempat yang sama. Hoho, lagi-lagi: cewek-cewek cakep....
Kamis siang saat perjalanan, tiba-tiba tersadar di sebelah kanan kami ada bus yang melaju dengan kecepatan hampir sama membawa cewek-cewek berseragam. Perbincangan via kertas yang ditempelkan di kaca memberikan informasi bahwa mereka dari SMA 2 Sumedang. Haha, bus kami langsung miring ke kanan :D Guru mereka sampai tertawa melihat ulah kami :p
Kemudian, Kamis sore kami ke Pantai Kelapa Tujuh (benarkah itu namanya?) di Suralaya. Lampung tampak di seberang. Waktunya main di pantai! Uah... sudah berapa tahun yang lalu terakhir kali aku ke pantai ya? Hm... air laut yang menyapu kaki sampai lutut, pasir yang menelusup di antara jemari, angin yang menyegarkan.... Cowok-cowok sudah asik cebur-ceburan, main bola, malah ada yang cuma main pasir kayak anak kecil yang ada di film-film. Hehe... maklum, jarang sekali ke pantai.... Ada juga yang memisah ke bagian pantai yang jauh... (ehm ehm, si adek baru pdkt ya...).
Jumat malam, kami menginap di vila yang ada di Anyer. Sudah gelap, jadi tidak bisa melihat apa pun. Sabtu pagi, baru tampak, lingkungan vila ini bukan pantai berpasir, melainkan karang. Wah, susah, aku takut turun ke bawah. Jadi, ya hanya menikmati angin laut dari atas, melihat kepiting-kepiting dari atas, melihat ombak dari atas.... Setelah bosan, akhirnya menonton cowok-cowok main kartu bohong-bohongan :D
Terakhir adalah Dufan! It's time to have fun, guys! Dari kora-kora sampai rumah miring kami masuki :)) Benar-benar deh... karena prinsip rombongan kecil kami adalah mencoba sebanyak mungkin! Yah... kan kami hampir tidak pernah main ke Dufan. Tetapi, ada juga teman yang ketagihan kora-kora dan bom bom kar (eh, bagaimana sih menuliskannya?), mainnya itu-itu terus. Yang kusayangkan, waktu arung jeram, aku hampir tidak basah. Wuah... padahal kan aku yang ingin basah, eh... malah temanku yang tidak terlalu ingin basah yang basah kuyup dari atas sampai bawah... huhu....
Yap, penutup semester yang benar-benar asik, sepadan dengan semester berat yang baru saja dilalui :)
Bandung, 10:14 AM 1/23/2006
@ Faiz's brain
Rabu malam, ke studio TransTV menonton ExtravaganzABG (huek...) dan Lepas Malam. Fufu, sebenarnya ini ajang melihat-lihat cewek cakep buat 90% peserta kulker :D Terutama ExtravaganzABG tuh... benar-benar acara yang garing dan aneh.... Adapun dalam Lepas Malam, fufu, kami sungguh beruntung. Sempat khawatir karena pembawa acaranya bukan lagi Farhan. Eh, ternyata penggantinya tidak kalah kocak: Indi. Jadi lega... :D Bintang tamunya KD, Titi DJ, Ruth Sahanaya, dan Komeng. Dan, orang paling cakep di ruangan itu -cowok, bukan cewek ;) adalah pengarah acara atau apa pun itu namanya, hehe.... Lalu, ternyata bus kami diparkir bersebelahan dengan bus yang dipakai teman-teman Unpad yang juga datang ke tempat yang sama. Hoho, lagi-lagi: cewek-cewek cakep....
Kamis siang saat perjalanan, tiba-tiba tersadar di sebelah kanan kami ada bus yang melaju dengan kecepatan hampir sama membawa cewek-cewek berseragam. Perbincangan via kertas yang ditempelkan di kaca memberikan informasi bahwa mereka dari SMA 2 Sumedang. Haha, bus kami langsung miring ke kanan :D Guru mereka sampai tertawa melihat ulah kami :p
Kemudian, Kamis sore kami ke Pantai Kelapa Tujuh (benarkah itu namanya?) di Suralaya. Lampung tampak di seberang. Waktunya main di pantai! Uah... sudah berapa tahun yang lalu terakhir kali aku ke pantai ya? Hm... air laut yang menyapu kaki sampai lutut, pasir yang menelusup di antara jemari, angin yang menyegarkan.... Cowok-cowok sudah asik cebur-ceburan, main bola, malah ada yang cuma main pasir kayak anak kecil yang ada di film-film. Hehe... maklum, jarang sekali ke pantai.... Ada juga yang memisah ke bagian pantai yang jauh... (ehm ehm, si adek baru pdkt ya...).
Jumat malam, kami menginap di vila yang ada di Anyer. Sudah gelap, jadi tidak bisa melihat apa pun. Sabtu pagi, baru tampak, lingkungan vila ini bukan pantai berpasir, melainkan karang. Wah, susah, aku takut turun ke bawah. Jadi, ya hanya menikmati angin laut dari atas, melihat kepiting-kepiting dari atas, melihat ombak dari atas.... Setelah bosan, akhirnya menonton cowok-cowok main kartu bohong-bohongan :D
Terakhir adalah Dufan! It's time to have fun, guys! Dari kora-kora sampai rumah miring kami masuki :)) Benar-benar deh... karena prinsip rombongan kecil kami adalah mencoba sebanyak mungkin! Yah... kan kami hampir tidak pernah main ke Dufan. Tetapi, ada juga teman yang ketagihan kora-kora dan bom bom kar (eh, bagaimana sih menuliskannya?), mainnya itu-itu terus. Yang kusayangkan, waktu arung jeram, aku hampir tidak basah. Wuah... padahal kan aku yang ingin basah, eh... malah temanku yang tidak terlalu ingin basah yang basah kuyup dari atas sampai bawah... huhu....
Yap, penutup semester yang benar-benar asik, sepadan dengan semester berat yang baru saja dilalui :)
Bandung, 10:14 AM 1/23/2006
@ Faiz's brain
ZiaraH
Ziarah karya Iwan Simatupang, thanks to Zaki.... Akhirnya selesai juga aku membacanya....
A recommended novel. Iwan Simatupang cukup lugas menyampaikan apa yang ingin dikatakannya. Sebuah satire yang manis. Penceritaan yang cerdas tanpa menggurui. Tidak, tidak. Sang mantan pelukis yang juga telah menjadi mantan pengapur itu benci dengan istilah-istilah yang rumit. Ia benci dengan filsafat. Maka, tertawakanlah diri-diri yang sok filosofis. Hidup dan kehidupan itu indah, terlalu indah untuk dilihat dari kaca mata kuda.
Lalu, semua orang adalah sama, mempunyai hak yang sama. Semua mayat juga sama, mempunyai hak yang sama. Lucu, jika manusia hidup dikotak-kotakkan, setelah mati pun masih dikotak-kotakkan. Lucu, jika peraturan bukannya membuat hidup manusia lebih mudah.
Satu hal terakhir, jika ada satu orang gila di antara orang-orang waras, siapakah yang gila sebenarnya? Dan, jika ada satu orang normal di antara orang-orang gila, siapakah yang gila sebenarnya? He... pertanyaan menarik. Aku jadi teringat satu lirik tembang (lagu) Jawa yang isinya kurang lebih begini (maaf, aku sungguh-sungguh lupa, mohon ralat dari teman-teman sekalian):
Iki jamane jaman edan
Nek ra melu edan ra komanan
Nanging sakbegjane wong edan
Luwih begja sing isih eling Sang Pangeran
(Ini jamannya jaman gila
Kalau tidak ikut gila tidak kebagian
Tapi seberuntungnya orang gila
Lebih beruntung yang masih ingat Tuhan)
Aku juga ingat pertanyaan dari Koko, salah satu angkatan bangkot Boul saat kaderisasi: mana yang lebih penting, kenyataan, atau kesadaran? Aku, sebagai orang yang pragmatis, saat itu menjawab: tergantung. Kenyataan, dilihat dari mana? Kesadaran, untuk melihat apa? Seperti kutu di bulu-bulu kelinci (he, ingat Dunia Sophie...) yang tidak bisa melihat lebih jauh dari apa yang bisa dilihatnya, manusia yang sadar pun tak dapat mengetahui kenyataan bahwa bumi ini bulat dan berputar tanpa kesadaran bahwa ada kemungkinan seperti itu. Namun, manusia yang sadar yang berada di luar bumi tentunya mengetahui kenyataan itu.
Yah... nantinya pertanyaan bisa berkembang dalam diri kita masing-masing: jika kita berada dalam sistem, mampukah kita memperbaiki sistem, atau kita justru ikut terhanyut dalam sistem? Satu hal yang jelas, tak mungkin memperbaiki sistem dari luar saja. Tidak akan ada cukup keyakinan bahwa sistem telah benar-benar diperbaiki jika perbaikan hanya dilakukan dari luar.
Oh oh, ada hal lain yang harus kulakukan benar-benar. Sekian dulu untuk saat ini.
Bandung, 6:50 PM 1/15/2006
@ Faiz's brain
A recommended novel. Iwan Simatupang cukup lugas menyampaikan apa yang ingin dikatakannya. Sebuah satire yang manis. Penceritaan yang cerdas tanpa menggurui. Tidak, tidak. Sang mantan pelukis yang juga telah menjadi mantan pengapur itu benci dengan istilah-istilah yang rumit. Ia benci dengan filsafat. Maka, tertawakanlah diri-diri yang sok filosofis. Hidup dan kehidupan itu indah, terlalu indah untuk dilihat dari kaca mata kuda.
Lalu, semua orang adalah sama, mempunyai hak yang sama. Semua mayat juga sama, mempunyai hak yang sama. Lucu, jika manusia hidup dikotak-kotakkan, setelah mati pun masih dikotak-kotakkan. Lucu, jika peraturan bukannya membuat hidup manusia lebih mudah.
Satu hal terakhir, jika ada satu orang gila di antara orang-orang waras, siapakah yang gila sebenarnya? Dan, jika ada satu orang normal di antara orang-orang gila, siapakah yang gila sebenarnya? He... pertanyaan menarik. Aku jadi teringat satu lirik tembang (lagu) Jawa yang isinya kurang lebih begini (maaf, aku sungguh-sungguh lupa, mohon ralat dari teman-teman sekalian):
Iki jamane jaman edan
Nek ra melu edan ra komanan
Nanging sakbegjane wong edan
Luwih begja sing isih eling Sang Pangeran
(Ini jamannya jaman gila
Kalau tidak ikut gila tidak kebagian
Tapi seberuntungnya orang gila
Lebih beruntung yang masih ingat Tuhan)
Aku juga ingat pertanyaan dari Koko, salah satu angkatan bangkot Boul saat kaderisasi: mana yang lebih penting, kenyataan, atau kesadaran? Aku, sebagai orang yang pragmatis, saat itu menjawab: tergantung. Kenyataan, dilihat dari mana? Kesadaran, untuk melihat apa? Seperti kutu di bulu-bulu kelinci (he, ingat Dunia Sophie...) yang tidak bisa melihat lebih jauh dari apa yang bisa dilihatnya, manusia yang sadar pun tak dapat mengetahui kenyataan bahwa bumi ini bulat dan berputar tanpa kesadaran bahwa ada kemungkinan seperti itu. Namun, manusia yang sadar yang berada di luar bumi tentunya mengetahui kenyataan itu.
Yah... nantinya pertanyaan bisa berkembang dalam diri kita masing-masing: jika kita berada dalam sistem, mampukah kita memperbaiki sistem, atau kita justru ikut terhanyut dalam sistem? Satu hal yang jelas, tak mungkin memperbaiki sistem dari luar saja. Tidak akan ada cukup keyakinan bahwa sistem telah benar-benar diperbaiki jika perbaikan hanya dilakukan dari luar.
Oh oh, ada hal lain yang harus kulakukan benar-benar. Sekian dulu untuk saat ini.
Bandung, 6:50 PM 1/15/2006
@ Faiz's brain
uPDate
Well... sudah ada teman yang bertanya, why my blog hadn't been updated yet. Sibuk? Untuk mempersingkat cerita, anggaplah itu jawabannya, haha. Tapi, sebenarnya sih aku tidak sesibuk itu. Ada hal yang ingin kutuliskan, tapi masih kurancang di otak, lalu malah mandeg. Masih menunggu waktu yang tepat, mungkin :)
Lalu barusan aku bongkar-bongkar blog, dan aku menemukan beberapa draft yang dulu tidak aku publish, entah apa alasannya, heuheu.... Emh... OK, aku publish saja deh :)
@warnet
Lalu barusan aku bongkar-bongkar blog, dan aku menemukan beberapa draft yang dulu tidak aku publish, entah apa alasannya, heuheu.... Emh... OK, aku publish saja deh :)
@warnet
Thursday, March 15, 2007
peDeStrian
Jaman aku SD, guruku berkata kurang lebih begini, "Saat kalian berjalan kaki di jalan dengan jalur pejalan kaki, kalian bisa berjalan di sisi kiri. Tapi, jangan berjalan di sisi kiri jika jalan yang kalian lalui itu tidak mempunyai jalur pejalan kaki."
Logikanya sederhana saja, orang akan lebih waspada berjalan jika bisa melihat sepeda yang datang dari arah depan ketimbang musti bolak-balik melihat ke belakang untuk mengetahui apakah jarak truk gandeng yang datang masih 100 m ataukah tinggal 0.01 m.
Penerapannya? Sepertinya lebih banyak orang menganggap lebih benar untuk berjalan kaki searah dengan jalur kendaraan meski jalan itu tidak mengakomodasi pedestrian. Aku sendiri? Kalau sedang sayang diri sendiri, aku akan pindah ke sisi kanan jalan. Kalau sedang malas, aku tidak bisa marah saat hampir diserempet motor dari belakang.
Hm...
@Avalanche, 8:48 AM 2/28/2007
Logikanya sederhana saja, orang akan lebih waspada berjalan jika bisa melihat sepeda yang datang dari arah depan ketimbang musti bolak-balik melihat ke belakang untuk mengetahui apakah jarak truk gandeng yang datang masih 100 m ataukah tinggal 0.01 m.
Penerapannya? Sepertinya lebih banyak orang menganggap lebih benar untuk berjalan kaki searah dengan jalur kendaraan meski jalan itu tidak mengakomodasi pedestrian. Aku sendiri? Kalau sedang sayang diri sendiri, aku akan pindah ke sisi kanan jalan. Kalau sedang malas, aku tidak bisa marah saat hampir diserempet motor dari belakang.
Hm...
@Avalanche, 8:48 AM 2/28/2007
Wednesday, February 21, 2007
sCratCh
Nothing to write actually... huff... Let's see...
Aku merasa daya ingatku semakin parah saja. Ada saatnya, dimana aku berpikir: hey, let's write it in blog! But then, flap! Hal itu terlupakan begitu saja. Atau, aku merasa hal itu tidak terlalu menarik untuk kutuliskan. Atau, itu hanya alasanku saja.
Jadi, bukannya tak ada yang menarik. Banyak hal menarik. Hanya saja, untuk minggu-minggu terakhir ini, aku pamit, aku sedang tak ada mood untuk menuliskan hal-hal menarik itu secara runtut.
Maafkan aku, diriku. Terpaksa tidak mencapai targetku sendiri untuk menulis setidaknya sebulan sekali :(
@Avalanche
Aku merasa daya ingatku semakin parah saja. Ada saatnya, dimana aku berpikir: hey, let's write it in blog! But then, flap! Hal itu terlupakan begitu saja. Atau, aku merasa hal itu tidak terlalu menarik untuk kutuliskan. Atau, itu hanya alasanku saja.
Jadi, bukannya tak ada yang menarik. Banyak hal menarik. Hanya saja, untuk minggu-minggu terakhir ini, aku pamit, aku sedang tak ada mood untuk menuliskan hal-hal menarik itu secara runtut.
Maafkan aku, diriku. Terpaksa tidak mencapai targetku sendiri untuk menulis setidaknya sebulan sekali :(
@Avalanche
Saturday, December 23, 2006
GlenyenGan
Bulan lalu adalah bulan panen buku. Bursa buku, pameran buku... Alhasil aku punya banyak buku lama tapi baru, atau baru tapi lama. Terbitan lama, tapi baru aku beli. Atau, aku baru beli buku terbitan lama. Ya ya... whatever...
Dan alhasil, bulan ini adalah bulannya mabuk baca buku, hahaha....
Salah satu buku yang langsung aku sambar begitu kutemukan di pameran adalah Sugih Tanpa Banda, made by (alm) Umar Kayam. Uh... I really miss those characters: Pak Ageng, Mr Rigen dalah Ms Nansiyem beserta dua bedhes-nya, Prop Lemahamba dan Prop Prasodjo Legowo, plus Pak Joyo penjaja penggeng eyem. Waktu SD, kolom Umar Kayam ini adalah salah satu favoritku di SKH Kedaulatan Rakyat langganan keluargaku waktu itu, salah satu koran lokal yang cukup kuat menancapkan dominasinya di Jogja (menurutku pribadi sih, hehe...), selain cerbung SH Mintardja yang judulnya Api di Bukit Menoreh, or something like that (mohon maaf, ingatan lemah). Pokoknya kalau udah Selasa (atau Rabu, atau Kamis?), mataku langsung mencari kolom Umar Kayam di halaman pertama kolom paling kiri.
Yah, buku Sugih Tanpa Banda adalah kumpulan kedua kolom Umar Kayam dari awal 1991 sampai tahun baru 1994. Bagaimana sukanya aku pada tulisan Umar Kayam mungkin karena Umar Kayam pinter ngomong hal berat dengan cara yang ringan yang, kalau kata Sapardi di pengantarnya, disebut glenyengan. Menyindir khas Jawa. Mengingatkan khas Jawa. Memarahi khas Jawa. Dilakukan oleh rakyat kecil, wong cilik, termasuk untuk para priyagungnya, untuk para pemimpinnya. Dan kalau para priyagungnya ini orang Jawa, disindir, diingatkan, dimarahi sehalus apapun, ya seharusnya merasa dan memperbaiki diri. Di sinilah seninya orang Jawa, yang tidak mau mempermalukan orang lain, apalagi priyagungnya. Di sinilah seninya orang Jawa, yang dihina-dina orang-orang bukan Jawa dan orang-orang modern, karena membuat segalanya terasa begitu rumit dan repot. Kalau mau bilang itu salah ya bilang saja itu salah, tidak usah ngalor ngidul....
Lha mungkin para priyagung Jawa ini sudah hilang rasa-nya ya? Entah mengapa. Apakah para priyagung Jawa saat ini tidak pernah dilatih menjadi priyagung, dalam hal bagaimana dia mendengarkan suara rakyat, vox populi istilahnya? Semar, sang dewa yang turun ke bumi, mungkin tidak akan sabar berhadapan dengan priyagung zaman modern, yang tidak punya kepekaan sosial apa pun, lain halnya dengan Pandawa yang menjadi majikan Sang Semar di dunia.
Mungkin memang sudah saatnya glenyengan disimpan dalam memori masyarakat Jawa, untuk sewaktu-waktu saja dilontarkan sebagai pengingat budaya.
Hm...
Dan alhasil, bulan ini adalah bulannya mabuk baca buku, hahaha....
Salah satu buku yang langsung aku sambar begitu kutemukan di pameran adalah Sugih Tanpa Banda, made by (alm) Umar Kayam. Uh... I really miss those characters: Pak Ageng, Mr Rigen dalah Ms Nansiyem beserta dua bedhes-nya, Prop Lemahamba dan Prop Prasodjo Legowo, plus Pak Joyo penjaja penggeng eyem. Waktu SD, kolom Umar Kayam ini adalah salah satu favoritku di SKH Kedaulatan Rakyat langganan keluargaku waktu itu, salah satu koran lokal yang cukup kuat menancapkan dominasinya di Jogja (menurutku pribadi sih, hehe...), selain cerbung SH Mintardja yang judulnya Api di Bukit Menoreh, or something like that (mohon maaf, ingatan lemah). Pokoknya kalau udah Selasa (atau Rabu, atau Kamis?), mataku langsung mencari kolom Umar Kayam di halaman pertama kolom paling kiri.
Yah, buku Sugih Tanpa Banda adalah kumpulan kedua kolom Umar Kayam dari awal 1991 sampai tahun baru 1994. Bagaimana sukanya aku pada tulisan Umar Kayam mungkin karena Umar Kayam pinter ngomong hal berat dengan cara yang ringan yang, kalau kata Sapardi di pengantarnya, disebut glenyengan. Menyindir khas Jawa. Mengingatkan khas Jawa. Memarahi khas Jawa. Dilakukan oleh rakyat kecil, wong cilik, termasuk untuk para priyagungnya, untuk para pemimpinnya. Dan kalau para priyagungnya ini orang Jawa, disindir, diingatkan, dimarahi sehalus apapun, ya seharusnya merasa dan memperbaiki diri. Di sinilah seninya orang Jawa, yang tidak mau mempermalukan orang lain, apalagi priyagungnya. Di sinilah seninya orang Jawa, yang dihina-dina orang-orang bukan Jawa dan orang-orang modern, karena membuat segalanya terasa begitu rumit dan repot. Kalau mau bilang itu salah ya bilang saja itu salah, tidak usah ngalor ngidul....
Lha mungkin para priyagung Jawa ini sudah hilang rasa-nya ya? Entah mengapa. Apakah para priyagung Jawa saat ini tidak pernah dilatih menjadi priyagung, dalam hal bagaimana dia mendengarkan suara rakyat, vox populi istilahnya? Semar, sang dewa yang turun ke bumi, mungkin tidak akan sabar berhadapan dengan priyagung zaman modern, yang tidak punya kepekaan sosial apa pun, lain halnya dengan Pandawa yang menjadi majikan Sang Semar di dunia.
Mungkin memang sudah saatnya glenyengan disimpan dalam memori masyarakat Jawa, untuk sewaktu-waktu saja dilontarkan sebagai pengingat budaya.
Hm...
Saturday, December 16, 2006
PANCASILA
Uh... rasanya sudah bertahun-tahun yang lalu terakhir aku mendengar kata ini. Apakah anak SD sekarang masih mengenali PANCASILA? Kenapa aku meragukannya?
Lalu, apakah PANCASILA itu? Masih ingat nggak bunyi ke-45 butir PANCASILA (belum nambah lagi kan butir-butirnya?). Ada tenggang rasa, ada musyawarah, ada adil, ada ini, ada itu... uh, sudah lupa....
Lalu, sejauh manakah nilai-nilai PANCASILA itu meresap dalam daging dan tulang manusia Indonesia saat ini? Ataukah PANCASILA masih sebatas hafalan dalam batok kepala yang sewaktu-waktu digunakan dalam keadaan darurat, misalnya THB dan EBTANAS, dan enggan keluar untuk menemui kehidupan nyata?
Karena, seandainya memang PANCASILA itu pondasi negara Indonesia, mengapa rakyat Indonesia sendiri enggan mengaplikasikannya? Perlukah perubahan drastis PANCASILA?
Ataukah, rakyat Indonesia memang belum merdeka?
Lalu, apakah PANCASILA itu? Masih ingat nggak bunyi ke-45 butir PANCASILA (belum nambah lagi kan butir-butirnya?). Ada tenggang rasa, ada musyawarah, ada adil, ada ini, ada itu... uh, sudah lupa....
Lalu, sejauh manakah nilai-nilai PANCASILA itu meresap dalam daging dan tulang manusia Indonesia saat ini? Ataukah PANCASILA masih sebatas hafalan dalam batok kepala yang sewaktu-waktu digunakan dalam keadaan darurat, misalnya THB dan EBTANAS, dan enggan keluar untuk menemui kehidupan nyata?
Karena, seandainya memang PANCASILA itu pondasi negara Indonesia, mengapa rakyat Indonesia sendiri enggan mengaplikasikannya? Perlukah perubahan drastis PANCASILA?
Ataukah, rakyat Indonesia memang belum merdeka?
Saturday, November 04, 2006
aLcOhOL
Alkohol itu haram. Orang mabuk bisa membunuh, bunuh diri, berzina, dan lain-lain.
Seorang teman pernah bilang, nggak mau minum obat batuk karena mengandung alkohol. Tapi, dia doyan tape. Bukannya tape itu hasil fermentasi (means it contents alcohol as well)? Lah, kenapa tape malah jadi sajian lebaran ya? Apakah tape tidak memabukkan? Lalu, memangnya obat batuk bikin mabuk? Argh, jadi bingung!!!
Seorang teman pernah bilang, nggak mau minum obat batuk karena mengandung alkohol. Tapi, dia doyan tape. Bukannya tape itu hasil fermentasi (means it contents alcohol as well)? Lah, kenapa tape malah jadi sajian lebaran ya? Apakah tape tidak memabukkan? Lalu, memangnya obat batuk bikin mabuk? Argh, jadi bingung!!!
Saturday, September 23, 2006
moNey
Setelah hampir 23 tahun hidupku, baru sekarang aku mengerti arti uang!
Yup, kemarin pagi di kantor, menguping obrolan di belakangku sambil sok sibuk koreksi connection diagram dan cable schedule :p Dua orang ini membicarakan uang. Intinya akan kukatakan di sini, sekalian review pemahaman baruku mengenai uang.
Yang namanya jual-beli adalah pertukaran barang hasil bumi dengan barang hasil bumi. Satu kuintal beras dengan satu ekor kambing, misalnya. Satu ton gula dengan setengah kg emas, misalnya. Pokoknya sesuai dengan kesepakatan dua pihak yang bertransaksi.
Uang. Uang hanyalah representasi barang hasil bumi untuk memudahkan transaksi, repot kalau harus bawa kambing naik bus. Uang satu juta rupiah merepresentasikan satu ons emas 24 karat, misalnya. Dimana emasnya? Emas itu disimpan oleh negara, katakanlah di bank, sebagai jaminannya. Anggap saja seperti kita mendapatkan sejumlah uang setelah menjaminkan barang di pegadaian. Maka, yang namanya uang tidak bisa dicetak seenak hati. Kalau memang bisa seperti itu, tidak ada orang miskin bukan?
Saat negara mempunyai utang, artinya tidak ada jaminan apa pun di bank. Tidak ada emas, apalagi kambing. Negara mencetak uang tanpa jaminan. Lalu, apa arti uang? Tidak ada artinya. Hanya kertas-kertas bernomor seri.
Untuk transaksi dalam negeri, hal ini tidak menjadi masalah. Toh, jaminan setiap orang dalam negara yang sama disimpan di tempat yang sama. Yang jadi masalah adalah saat harus terjadi transaksi antarnegara. Negara penjual akan mendapat mata uang negara pembeli yang notabene negara berutang. Lalu, apa jaminannya? Mana emasnya? Negara penjual tidak butuh uang yang hanya kertas-kertas bernomor seri. Negara penjual butuh emasnya untuk menukarkannya lagi dengan barang hasil bumi lainnya.
Demikian. Saat aku masih SD, aku hanya diberitahu bahwa uang adalah alat tukar yang membutuhkan kepercayaan penggunanya, atau begitulah kurang lebih yang kuingat. Aku baru tahu kalau uang adalah salah satu bentuk surat berharga. Hm....
Yup, kemarin pagi di kantor, menguping obrolan di belakangku sambil sok sibuk koreksi connection diagram dan cable schedule :p Dua orang ini membicarakan uang. Intinya akan kukatakan di sini, sekalian review pemahaman baruku mengenai uang.
Yang namanya jual-beli adalah pertukaran barang hasil bumi dengan barang hasil bumi. Satu kuintal beras dengan satu ekor kambing, misalnya. Satu ton gula dengan setengah kg emas, misalnya. Pokoknya sesuai dengan kesepakatan dua pihak yang bertransaksi.
Uang. Uang hanyalah representasi barang hasil bumi untuk memudahkan transaksi, repot kalau harus bawa kambing naik bus. Uang satu juta rupiah merepresentasikan satu ons emas 24 karat, misalnya. Dimana emasnya? Emas itu disimpan oleh negara, katakanlah di bank, sebagai jaminannya. Anggap saja seperti kita mendapatkan sejumlah uang setelah menjaminkan barang di pegadaian. Maka, yang namanya uang tidak bisa dicetak seenak hati. Kalau memang bisa seperti itu, tidak ada orang miskin bukan?
Saat negara mempunyai utang, artinya tidak ada jaminan apa pun di bank. Tidak ada emas, apalagi kambing. Negara mencetak uang tanpa jaminan. Lalu, apa arti uang? Tidak ada artinya. Hanya kertas-kertas bernomor seri.
Untuk transaksi dalam negeri, hal ini tidak menjadi masalah. Toh, jaminan setiap orang dalam negara yang sama disimpan di tempat yang sama. Yang jadi masalah adalah saat harus terjadi transaksi antarnegara. Negara penjual akan mendapat mata uang negara pembeli yang notabene negara berutang. Lalu, apa jaminannya? Mana emasnya? Negara penjual tidak butuh uang yang hanya kertas-kertas bernomor seri. Negara penjual butuh emasnya untuk menukarkannya lagi dengan barang hasil bumi lainnya.
Demikian. Saat aku masih SD, aku hanya diberitahu bahwa uang adalah alat tukar yang membutuhkan kepercayaan penggunanya, atau begitulah kurang lebih yang kuingat. Aku baru tahu kalau uang adalah salah satu bentuk surat berharga. Hm....
Tuesday, September 05, 2006
jaKaRta!!!
Kalau bisa memilih, aku memilih untuk kerja bukan di Jakarta. Walaupun begitu, toh akhirnya aku terdampar juga di sini.
Jakarta. Panasnya sih masih tolerable. Atau memang suhunya lebih dingin daripada biasanya? Pokoknya aku tak terlalu mempermasalahkannya. Toh, selama 5 hari kerja pada jam kerja aku berada di ruangan ber-AC kok.
Jakarta. Nyamuknya itu lho, masya 4WI... sungguh ganas dan sempat membuatku begadang semalam suntuk. Malam itu, aku menjadi mosquito slayer dan telah membasmi lebih dari 15 ekor nyamuk!
Jakarta. Makanannya mahal. Kalau mau berhemat, musti ke warteg. Untungnya ada warteg deket kosan yang makanannya cukup enak dan beragam. Dan, setelah hampir tiga minggu aku di sini, baru sejam yang lalu aku menemukan penjual nasi goreng dan capcay. Ga ada yang deket kosan sih... hiks....
Jakarta. Oh ya, akhirnya menemukan warnet ini. Harga standar, 2000 rupiah/30 menit. Kecepatan akses cukup oke. Kecil, cuma sembilan komputer, tapi ga penuh ya.... Jauh lebih banyak nyamuknya ketimbang orangnya. Apa orang-orang di sini pasang telkomnet di rumah ato memang nggak terlalu akrab dengan internet?
Ya sudahlah... itu saja untuk saat ini.
Jakarta. Panasnya sih masih tolerable. Atau memang suhunya lebih dingin daripada biasanya? Pokoknya aku tak terlalu mempermasalahkannya. Toh, selama 5 hari kerja pada jam kerja aku berada di ruangan ber-AC kok.
Jakarta. Nyamuknya itu lho, masya 4WI... sungguh ganas dan sempat membuatku begadang semalam suntuk. Malam itu, aku menjadi mosquito slayer dan telah membasmi lebih dari 15 ekor nyamuk!
Jakarta. Makanannya mahal. Kalau mau berhemat, musti ke warteg. Untungnya ada warteg deket kosan yang makanannya cukup enak dan beragam. Dan, setelah hampir tiga minggu aku di sini, baru sejam yang lalu aku menemukan penjual nasi goreng dan capcay. Ga ada yang deket kosan sih... hiks....
Jakarta. Oh ya, akhirnya menemukan warnet ini. Harga standar, 2000 rupiah/30 menit. Kecepatan akses cukup oke. Kecil, cuma sembilan komputer, tapi ga penuh ya.... Jauh lebih banyak nyamuknya ketimbang orangnya. Apa orang-orang di sini pasang telkomnet di rumah ato memang nggak terlalu akrab dengan internet?
Ya sudahlah... itu saja untuk saat ini.
Thursday, August 17, 2006
RainboW
Sebenarnya, sudah sangat terlambat menuliskan ini, but it's better than never, heuheu...
Bahwa setelah (hampir) empat tahun aku kuliah di ITB, aku baru pertama kalinya lihat pelangi di Kolam Indonesia Tenggelam!!! Masya 4WI aku ini... benar-benar tidak memperhatikan sekitarku dengan baik. Jadi teringat kata temenku: May, kamu ini sungguh nggak sensitif. Kasusnya hampir sama, aku sudah ga ketemu dia, maupun kolam ini, cukup lama. Ketemu pun paling ga sengaja, bertegur sapa sebentar, and that's it. Well, aku ini tak bisa membaca detil, remember? Kalau dibilang pembelaan yah... apa boleh buat.
Eh yah... sebenarnya kejadian di atas (lihat pelangi tentu saja) terjadi bukan benar-benar hari-hari ini. Lebih tepatnya sih terjadi saat aku lewat kolam dari TU Prodi ke arah-utara-jalurku-pulang-setelah-kenaikan-harga-BBM pada hari aku mengumpulkan draft TA. Berarti... awal bulan Juni kalau tidak salah ingat. Hehe, nggak penting banget yah....
What matter is morale of the story: just stop, take a deep breath, feel it, then you can see how beautiful life is.
Bahwa setelah (hampir) empat tahun aku kuliah di ITB, aku baru pertama kalinya lihat pelangi di Kolam Indonesia Tenggelam!!! Masya 4WI aku ini... benar-benar tidak memperhatikan sekitarku dengan baik. Jadi teringat kata temenku: May, kamu ini sungguh nggak sensitif. Kasusnya hampir sama, aku sudah ga ketemu dia, maupun kolam ini, cukup lama. Ketemu pun paling ga sengaja, bertegur sapa sebentar, and that's it. Well, aku ini tak bisa membaca detil, remember? Kalau dibilang pembelaan yah... apa boleh buat.
Eh yah... sebenarnya kejadian di atas (lihat pelangi tentu saja) terjadi bukan benar-benar hari-hari ini. Lebih tepatnya sih terjadi saat aku lewat kolam dari TU Prodi ke arah-utara-jalurku-pulang-setelah-kenaikan-harga-BBM pada hari aku mengumpulkan draft TA. Berarti... awal bulan Juni kalau tidak salah ingat. Hehe, nggak penting banget yah....
What matter is morale of the story: just stop, take a deep breath, feel it, then you can see how beautiful life is.
Friday, July 07, 2006
"bunga rumput"
serdadu berdiri tegak di gerbang pagar jala
saat disadari gadis kecil tersenyum padanya
dengan mata bening muka jernih
dan terselip tanya, "mengapa begini?"
serdadu tak 'geming di gerbang pagar jala
saat terlihat gadis kecil hampiri dirinya
dan terdengar raung sakit tawanan
jadi makanan buat telinganya seharian
heran sang serdadu
jelas tampak dari kelam matanya
saat tangan gadis kecil terulur
dengan bunga-bunga rumput terangkum
raut bengisnya pudar
dan segala rasa 'putar
tatap mata bening muka jernih
dan terselip tanya, "mengapa begini?"
serdadu berdiri tegak di gerbang pagar jala
saat teringat 'kan sang komandan
buat raut bengisnya kembali
dan perputaran rasa terhenti
serdadu bergeming di gerbang pagar jala
kokang senjata laras panjang
semakin keras raung sakit tawanan
jadi makanan buat telinganya seharian
gadis kecil dengan mata bening muka jernih
tangan terulur dengan bunga rumput terangkum
dicatat baik-baik dalam bisu
disembunyikan di antara relung nurani nan beku
letusan, nyala kembang api
dan gadis kecil pun roboh ke bumi
raut bengisnya kembali pudar
dan segala rasa ikut 'putar
tatap mata bening muka jernih
dan terselip tanya, "mengapa begini?"
ratapan sang serdadu merapuh
rayapi ruang-ruang berjeruji besi
buat segenap penjaga tertegun
dan raung tawanan terhenti
"jika tanganku ini terlalu kotor, gadis kecil,
tak boleh 'tuk sekedar kuburkanmu,
dengan apakah harus kucuci agar kembali bersih?
apakah air mata bergantang-gantang
yang jadi embun di ujung pagi,
atau perasan bunga rumput dari ladang
yang mengalir darimu basahi bumi?"
gadis kecil diam
cahaya kedua matanya padam
ratapan sang serdadu terhenti perlahan
rangkum bunga-bunga rumput terserak
serdadu berdiri tegak di gerbang kesengsaraan
tak 'geming di gerbang penderitaan
terdengar raung sakit tawanan
jadi makanan buat telinganya seharian
-yogyakarta, 2/22/2001
saat disadari gadis kecil tersenyum padanya
dengan mata bening muka jernih
dan terselip tanya, "mengapa begini?"
serdadu tak 'geming di gerbang pagar jala
saat terlihat gadis kecil hampiri dirinya
dan terdengar raung sakit tawanan
jadi makanan buat telinganya seharian
heran sang serdadu
jelas tampak dari kelam matanya
saat tangan gadis kecil terulur
dengan bunga-bunga rumput terangkum
raut bengisnya pudar
dan segala rasa 'putar
tatap mata bening muka jernih
dan terselip tanya, "mengapa begini?"
serdadu berdiri tegak di gerbang pagar jala
saat teringat 'kan sang komandan
buat raut bengisnya kembali
dan perputaran rasa terhenti
serdadu bergeming di gerbang pagar jala
kokang senjata laras panjang
semakin keras raung sakit tawanan
jadi makanan buat telinganya seharian
gadis kecil dengan mata bening muka jernih
tangan terulur dengan bunga rumput terangkum
dicatat baik-baik dalam bisu
disembunyikan di antara relung nurani nan beku
letusan, nyala kembang api
dan gadis kecil pun roboh ke bumi
raut bengisnya kembali pudar
dan segala rasa ikut 'putar
tatap mata bening muka jernih
dan terselip tanya, "mengapa begini?"
ratapan sang serdadu merapuh
rayapi ruang-ruang berjeruji besi
buat segenap penjaga tertegun
dan raung tawanan terhenti
"jika tanganku ini terlalu kotor, gadis kecil,
tak boleh 'tuk sekedar kuburkanmu,
dengan apakah harus kucuci agar kembali bersih?
apakah air mata bergantang-gantang
yang jadi embun di ujung pagi,
atau perasan bunga rumput dari ladang
yang mengalir darimu basahi bumi?"
gadis kecil diam
cahaya kedua matanya padam
ratapan sang serdadu terhenti perlahan
rangkum bunga-bunga rumput terserak
serdadu berdiri tegak di gerbang kesengsaraan
tak 'geming di gerbang penderitaan
terdengar raung sakit tawanan
jadi makanan buat telinganya seharian
-yogyakarta, 2/22/2001
tHe caT aGain
Kucing itu lagi-lagi tidur tepat di depan pintu membuatku tak bisa memasukkan motor karena enggan mengganggunya. Nyenyak dan damai sekali raut wajahnya. Ehm....
@Faiz's brain, satu setengah jam setelah berhasil masuk rumah
@Faiz's brain, satu setengah jam setelah berhasil masuk rumah
Monday, July 03, 2006
reaDing a bOOk
Setiap orang mempunyai cara yang berbeda dalam hal membaca buku. Kalau aku, aku hanya akan menangkap apa yang penting dari suatu paragraf. Aku tak pernah mengingat suatu kalimat. Yah, mungkin saja karena ingatan jangka panjangku memang payah, ditambah lagi aku ini pemalas.
Menurutku, bagaimana kita membaca buku tergantung pada buku apa yang kita baca. Membaca textbook tentunya berbeda dengan membaca novel. Kalau membaca textbook, aku lebih sering mencari dulu rumus akhirnya. Kalau baru rajin (dan ini jarang sekali), barulah aku membaca bagian penurunan rumusnya. Ini pun tergantung. Kalau penurunan rumusnya terlalu rumit untuk mata dan otakku, mending langsung tutup bukunya, hehe.... Membaca novel, aku akan menikmati setiap katanya, berusaha memahami dan menggambarkannya di otak. Hal ini masih berlaku pada semua novel yang kubaca kecuali Da Vinci Code dan Angels and Demons (ah, benarkah judulnya?). Kenapa dengan dua buku ini? Yah... kuakui, bahasa Inggrisku masih payah. Padahal, dalam kedua buku ini, tempat dan peristiwa dideskripsikan dengan begitu detil. Adapun untuk semua buku selain textbook dan novel, aku menggunakan cara yang kukatakan sebelumnya, baca dan tangkap apa maksudnya.
Mungkinkah cara kita membaca buku juga akan sama dengan cara kita membaca manusia? Aku sendiri merasa aku begitu. Dari orang-orang di sekelilingku, aku hanya menangkap apa yang umum darinya. Tak ada detil. Aku tidak bisa membaca manusia dengan detil. Aku hanya memahaminya sebagai karakter manusia yang bersangkutan. Mungkin benar kata temanku, aku hanya melihat apa yang baik dari seseorang. Itu membuatku mempunyai banyak teman, tapi karena itu juga tidak ada teman yang cukup dekat denganku. Yep, i do understand what she meant.
Kelemahanku adalah pada akhirnya aku hanya bisa menduga-duga. Aku paham itu, karenanya aku jarang (atau mungkin tak pernah) menghakimi. Mana bisa menghakimi kalau aku sendiri tidak mengetahui dengan pasti apa yang dihakimi?
Bertahun-tahun lalu seorang teman bertanya padaku, pertanyaan yang aneh sehingga aku masih mengingatnya.
"May, kok kamu bisa ngobrol sama dia?"
Aku bengong, benar-benar bingung.
"Lah, emang kenapa?"
"Dia kan jarang ngomong sama perempuan."
"Ha? Oh ya? Masa sih?"
"Iya. Dia kan alim."
Heh? So? Jadi inget omongan temenku beberapa bulan lalu: lha kamu kan bukan cewek :)) felt honored for your opinion, bro ;)
"Oh, kami nggak sering ngobrol kok. Tadi kebetulan aja emang ada yang harus diomongin."
"Oh..."
Temanku manggut-manggut menerima. Heh, kita semua kan teman... aren't we?
Menurutku, bagaimana kita membaca buku tergantung pada buku apa yang kita baca. Membaca textbook tentunya berbeda dengan membaca novel. Kalau membaca textbook, aku lebih sering mencari dulu rumus akhirnya. Kalau baru rajin (dan ini jarang sekali), barulah aku membaca bagian penurunan rumusnya. Ini pun tergantung. Kalau penurunan rumusnya terlalu rumit untuk mata dan otakku, mending langsung tutup bukunya, hehe.... Membaca novel, aku akan menikmati setiap katanya, berusaha memahami dan menggambarkannya di otak. Hal ini masih berlaku pada semua novel yang kubaca kecuali Da Vinci Code dan Angels and Demons (ah, benarkah judulnya?). Kenapa dengan dua buku ini? Yah... kuakui, bahasa Inggrisku masih payah. Padahal, dalam kedua buku ini, tempat dan peristiwa dideskripsikan dengan begitu detil. Adapun untuk semua buku selain textbook dan novel, aku menggunakan cara yang kukatakan sebelumnya, baca dan tangkap apa maksudnya.
Mungkinkah cara kita membaca buku juga akan sama dengan cara kita membaca manusia? Aku sendiri merasa aku begitu. Dari orang-orang di sekelilingku, aku hanya menangkap apa yang umum darinya. Tak ada detil. Aku tidak bisa membaca manusia dengan detil. Aku hanya memahaminya sebagai karakter manusia yang bersangkutan. Mungkin benar kata temanku, aku hanya melihat apa yang baik dari seseorang. Itu membuatku mempunyai banyak teman, tapi karena itu juga tidak ada teman yang cukup dekat denganku. Yep, i do understand what she meant.
Kelemahanku adalah pada akhirnya aku hanya bisa menduga-duga. Aku paham itu, karenanya aku jarang (atau mungkin tak pernah) menghakimi. Mana bisa menghakimi kalau aku sendiri tidak mengetahui dengan pasti apa yang dihakimi?
Bertahun-tahun lalu seorang teman bertanya padaku, pertanyaan yang aneh sehingga aku masih mengingatnya.
"May, kok kamu bisa ngobrol sama dia?"
Aku bengong, benar-benar bingung.
"Lah, emang kenapa?"
"Dia kan jarang ngomong sama perempuan."
"Ha? Oh ya? Masa sih?"
"Iya. Dia kan alim."
Heh? So? Jadi inget omongan temenku beberapa bulan lalu: lha kamu kan bukan cewek :)) felt honored for your opinion, bro ;)
"Oh, kami nggak sering ngobrol kok. Tadi kebetulan aja emang ada yang harus diomongin."
"Oh..."
Temanku manggut-manggut menerima. Heh, kita semua kan teman... aren't we?
Tuesday, June 27, 2006
wHat I wanna dO
Ada hal yang aku sangat ingin lakukan. Setidaknya, satu saat nanti, aku sangat berharap aku bisa melakukannya. Cita-cita, orang bilang.
Well, it's a very, very long way to go. I'll need years. Many years. Hm....
FIGHT!
Well, it's a very, very long way to go. I'll need years. Many years. Hm....
FIGHT!
Friday, June 23, 2006
CalCulator
Sejak SMA, teman-teman yang melihat kalkulatorku berkomentar macam-macam.
"May, kalkulator apa tuh? Bisa nyala ijo."
"Kalkulatormu kayak punya pakdhe-ku."
"Unik, unik."
"Wah, enak ya, baterenya gampang dicari."
Heh, kalkulator CASIO fx-140 ini sudah banyak membantuku sampai sekarang, termasuk untuk mengerjakan tugas dan ujian dengan bilangan-bilangan kompleks yang bikin kepalaku puyeng. Aku tak punya kalkulator lain (mengabaikan fitur kalkulator dalam HP Nokia 3310 yang hanya bisa untuk operasi tambah kurang kali bagi). Memang, tidak bisa dipakai untuk menyimpan rumus. Tapi, aku sangat menyukainya. Bagaimana tidak? Umurnya sudah sangat tua untuk ukuran kalkulator, namun tombol-tombolnya masih berfungsi dengan baik.
Yah... sepertinya sudah saatnya dia pensiun. Aku harus berterima kasih karena dia telah mengantarku menjadi sarjana. Well well, farewell time, my dear calculator... hiks hiks....
"May, kalkulator apa tuh? Bisa nyala ijo."
"Kalkulatormu kayak punya pakdhe-ku."
"Unik, unik."
"Wah, enak ya, baterenya gampang dicari."
Heh, kalkulator CASIO fx-140 ini sudah banyak membantuku sampai sekarang, termasuk untuk mengerjakan tugas dan ujian dengan bilangan-bilangan kompleks yang bikin kepalaku puyeng. Aku tak punya kalkulator lain (mengabaikan fitur kalkulator dalam HP Nokia 3310 yang hanya bisa untuk operasi tambah kurang kali bagi). Memang, tidak bisa dipakai untuk menyimpan rumus. Tapi, aku sangat menyukainya. Bagaimana tidak? Umurnya sudah sangat tua untuk ukuran kalkulator, namun tombol-tombolnya masih berfungsi dengan baik.
Yah... sepertinya sudah saatnya dia pensiun. Aku harus berterima kasih karena dia telah mengantarku menjadi sarjana. Well well, farewell time, my dear calculator... hiks hiks....
... aGaiN?
Lately, it feels like couple months ago. Hiah... a little strange. I should used to it. But well, I have to confess it, I hate having it in my mind.
I started this semester in a very bad mood. I just had three more classes to take. Slowly, I realized, this feeling came to me. Well, how couldn't I? I couldn't meet them as often as before. Everyone was busy for their final project. At the same time, my homemate to whom I tell almost everything, 'left' me for her boyfriend. Hiah... I just felt very lonely back then.
We're going to graduate, have a job in different places, or marry. Again, this feeling comes into my head. Some lighter kind of frightened. Well, I just can't help it. I've already considered them as my own family.
Hmm... I'll miss you, guys....
I started this semester in a very bad mood. I just had three more classes to take. Slowly, I realized, this feeling came to me. Well, how couldn't I? I couldn't meet them as often as before. Everyone was busy for their final project. At the same time, my homemate to whom I tell almost everything, 'left' me for her boyfriend. Hiah... I just felt very lonely back then.
We're going to graduate, have a job in different places, or marry. Again, this feeling comes into my head. Some lighter kind of frightened. Well, I just can't help it. I've already considered them as my own family.
Hmm... I'll miss you, guys....
Wednesday, May 24, 2006
citY
Beberapa malam yang lalu, menginap di kos teman, dan kami bertiga berbincang-bincang tentang Indonesiyah (para Indonesien dilarang protes :p). Masalah ini, itu, especially di Bandung. Jalan, sampah, garbage, trash, de el el. Betapa suatu kota di Indonesia terkadang dibangun tanpa melihat pondasinya. Jakarta langganan banjir. Bandung langganan macet mingguan.
Ah, jadi inget komentar teman kemarin: Bandung... Bandung... punya Teknik Planologi, punya Teknik Lingkungan, tapi kacaunya kok kayak begini... (teman2 PL dan TL juga dilarang tersinggung).
Aeh... apa pemerintah harus main Pharaoh, Zeus, atau Caesar mungkin, biar kotanya rapi, tertata, sehat, de el el? Tapi emang rada beda sih.... Kalo real life, penduduknya nggak langsung kabur ke luar kota begitu ada bau menyengat (calon penyakit nih).
Atau, haruskah kota-kota dibongkar semua sampai akar-akarnya? (semoga kota-kota di Aceh jadi lebih baik...)
Ah, jadi inget komentar teman kemarin: Bandung... Bandung... punya Teknik Planologi, punya Teknik Lingkungan, tapi kacaunya kok kayak begini... (teman2 PL dan TL juga dilarang tersinggung).
Aeh... apa pemerintah harus main Pharaoh, Zeus, atau Caesar mungkin, biar kotanya rapi, tertata, sehat, de el el? Tapi emang rada beda sih.... Kalo real life, penduduknya nggak langsung kabur ke luar kota begitu ada bau menyengat (calon penyakit nih).
Atau, haruskah kota-kota dibongkar semua sampai akar-akarnya? (semoga kota-kota di Aceh jadi lebih baik...)
Sunday, May 14, 2006
heY...
Just wanna scream...
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!
Heh... still didn't work...
Kalau mau teriak, teriak aja...
Well, thanks for the advise anyway. But, I haven't found a proper place to scream, without someone yelling back at me. Even if you had sacrificed gladly one of your ears to listen... tsk, guess that time I didn't dare having all my home-mates awaken in the middle of the night.
Aeh... feels like I miss everything and everyone. Huah...
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!
Heh... still didn't work...
Kalau mau teriak, teriak aja...
Well, thanks for the advise anyway. But, I haven't found a proper place to scream, without someone yelling back at me. Even if you had sacrificed gladly one of your ears to listen... tsk, guess that time I didn't dare having all my home-mates awaken in the middle of the night.
Aeh... feels like I miss everything and everyone. Huah...
Subscribe to:
Posts (Atom)